Taiwan Menyatakan Perlu Mewaspadai Aktivitas Militer China

Taiwan Menyatakan Perlu Mewaspadai Aktivitas Militer China

Taiwan Menyatakan Perlu Mewaspadai Aktivitas Militer China – Taiwan mengatakan negaranya mewaspadai aktivitas militer China yang berlebihan. Hal itu disampaikan setelah Beijing mengirim 56 pesawat ke zona pertahanan udaranya. Itu merupakan jumlah terbesar yang pernah dilaporkan.

Perdana Menteri Taiwan, Su Tseng-chang, mengatakan negaranya perlu mewaspadai aktivitas militer China yang dianggap berlebihan dan berpotensi merusak perdamaian regional. Keterangan itu disampaikan hari ini, setelah 56 pesawat China menerobos ke zona pertahanan udara Taiwan. Taipei telah melaporkan 148 pesawat angkatan udara China memasuki bagian selatan dan barat daya zona pertahanan udaranya dalam empat hari terakhir.

Dilansir dari The Straits Times, Taiwan menyebut kegiatan militer China sebagai ‘zona abu-abu’, yaitu skema militer yang dirancang untuk melemahkan Taiwan dengan provokasi berulang kali, serta menguji bagaimana tanggapan negara tersebut.

1. Taiwan tidak mau menggantungkan keamanannya kepada negara lain

Menurut Su, fokus Taiwan saat ini adalah memperkuat pertahanan dalam negeri dan menyelaraskan persepsi seluruh masyarakatnya untuk menyikapi China.

“Hanya dengan begitu negara-negara yang ingin mencaplok Taiwan tidak akan berani dengan mudah menggunakan kekuatan. Hanya ketika kita membantu diri kita sendiri, barulah orang lain dapat membantu kita,” kata dia.

Agresivitas Beijing terhadap Taipei merupakan bagian dari kebijakan one-China policy. Dari perspektif China, Taiwan merupakan wilayah separatis yang ingin memisahkan diri. Sebaliknya, dari sudut pandang Taiwan, mereka adalah negara yang demokratis, merdeka, dan independen.

China menggunakan pengaruhnya untuk menekan negara-negara supaya tidak mengakui kemerdekaan Taiwan. Beijing bahkan berjanji akan menggunakan segala cara, termasuk kekerasan, untuk mempersatukan wilayah kepulauan itu dengan wilayah daratannya, merujuk kepada China.

2. Taiwan fokus memodernisasi alutsistanya
148 Jet China Terobos Wilayah Udara Taiwan dalam 4 Hari Terakhir

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, pihaknya akan memprioritaskan modernisasi angkatan bersenjata, khusunya fokus pada penggunaan senjata bergerak.

Amerika Serikat (AS), pemasok militer utama Taiwan, menggambarkan peningkatan aktivitas militer China sebagai destabilisasi dan menegaskan kembali komitmennya mencaplok Taiwan.

Di tengah suasana penuh ketegangan, sumber keamanan mengonfirmasi laporan di media Taiwan pada Minggu, 3 Oktober, seorang pilot China menanggapi peringatan radio saat terbang dengan sumpah serapah.

Kendati, Kementerian Pertahanan China tidak segera memberikan komentar perihal ini.

3. Jepang mengaku siap ambil bagian dalam ketegangan China-Taiwan
148 Jet China Terobos Wilayah Udara Taiwan dalam 4 Hari Terakhir

Jepang juga mengaku sedang mengamati situasi dengan cermat ketegangan antara China dan Taiwan. Tokyo berharap keduanya segera menyelesaikan perbedaannya melalui dialog.

“Jepang percaya bahwa sangat penting bagi situasi di sekitar Taiwan untuk menjadi damai dan stabil. Alih-alih hanya memantau situasi, kami berharap untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan skenario yang muncul, untuk mempertimbangkan opsi apa yang kami miliki, serta persiapan yang harus kami lakukan,” kata Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi di Tokyo.

Menariknya adalah, orang Taiwan sudah terbiasa dengan ancaman China dan tidak ada tanda-tanda kepanikan di pulau itu, karena aktivitas militer yang meningkat, atau merusak kepercayaan investor di pasar saham.

Dia mengatakan Taiwan perlu memperkuat dirinya sendiri dan bersatu. Hanya dengan begitu negara-negara yang ingin mencaplok Taiwan tidak berani dengan mudah menggunakan kekuatan. “Hanya ketika kita membantu diri kita sendiri, orang lain dapat membantu kita,” ujar Su.

Sepanjang akhir pekan lalu, China menerbangkan pesawat tempurnya ke zona pertahanan udara Taiwan. Menurut Taiwan, terdapat 148 pesawat tempur China yang memasuki zona pertahanan udaranya di bagian selatan dan barat daya.

Amerika Serikat (AS) melayangkan kritik keras atas aksi militer China tersebut. Washington menilai selain berisiko salah perhitungan, hal itu juga dapat merusak perdamaian dan stabilitas regional.