Taiwan Menegaskan Tidak Akan Memulai Perang Dengan China

Taiwan Menegaskan Tidak Akan Memulai Perang Dengan China

Taiwan Menegaskan Tidak Akan Memulai Perang Dengan China – Hubungan China dan Taiwan semakin panas. Tekanan Beijing makin keras kepada Formosa yang dianggap sebagai bagian dari provinsinya itu. Presiden China Xi Jinping bahkan sempat bersuara lantang tentang ‘penyatuan Taiwan’. Ia menegaskan hal itu dipastikan akan dapat terwujud.

Taiwan menegaskan tidak akan memulai perang dengan China, namun berjanji akan mempertahankan diri secara penuh. Pernyataan itu di sampaikan oleh Menteri Pertahanan, Chiu Kuo-cheng, menanggapi lonjakan ketegangan di Selat Taiwan yang telah menimbulkan kekhawatiran internasional.

Dilansir dari The Straits Times, Taipei telah berulang kali mengatakan akan membela diri jika diserang. Namun, mereka tidak akan maju dengan gegabah dan tetap ingin mempertahankan status quo dengan China.

1. Taiwan wanti-wanti ekspansi China pada 2025
Taiwan: Kami Gak Akan Mulai Perang Lawan China, Tapi Kami Siap Perang!

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan telah menyampaikan laporan yang memperingatkan, Taiwan akan memberikan balasan jika provokasi China semakin agresif dan aktivitas militernya semakin dekat dengan negara kepulauan tersebut.

Ungkapan itu merujuk pada provokasi China pekan lalu, ketika hampir 150 pesawat jet melintasi wilayah udara Taiwan. Kementerian mencatat kejadian itu sebagai provokasi terburuk dalam 40 tahun terakhir.

Kemudian, Chiu juga menambahkan kekhawatirannya tentang kekuatan China yang terus meningkat, dikatakan bahwa Beijing dapat menginvasi Taiwan dengan skala penuh pada 2025 nanti.

Untuk mempersiapkan hal itu, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menegaskan bahwa fokus utama negaranya adalah modernisasi alutsista. Di sisi lain, Taiwan semakin aktif berupaya mencari dukungan internasional.

2. China berjanji akan merebut kembali Taiwan
Taiwan: Kami Gak Akan Mulai Perang Lawan China, Tapi Kami Siap Perang!

Bagi China, dalam rezim one-China policy, Taiwan merupakan provinsi separatis yang ingin memisahkan diri. Sebaliknya, Taiwan menilai bahwa mereka adalah entitas yang merdeka, demokrasi, dan berdaulat.

Dikutip dari Xinhua, pada perayaan Revolusi 1911, Presiden China Xi Jinping memastikan komitmennya untuk menggabungkan China daratan dan China lautan, julukan lain Taiwan. Menurut Jinping, pemisahan Taipei-Beijing adalah faktor utama yang menghambat revitalisasi nasional, istilah yang digunakan China untuk merujuk pada kebangkitan secara global.

“Mereka (Taiwan) yang melupakan warisan mereka, mengkhianati tanah air mereka, dan berusaha memecah belah negara, tidak akan berakhir dengan baik bagi mereka,” ucap Jinping, menyebut Taiwan yang pertama kali membuat China terbelah.

“Reunifikasi lengkap negara kita (China dan Taiwan) akan dapat diwujudkan,” tambah dia.

3. China menentang kehadiran militer asing di Taiwan
Taiwan: Kami Gak Akan Mulai Perang Lawan China, Tapi Kami Siap Perang!

Di hadapan parlemen, Chiu setuju dengan penilaian salah satu anggota bahwa kemampuan China dibatasi oleh kapasitas pengisian bahan bakar udara yang terbatas. Dengan demikian, China hanya memiliki pesawat pembom H-6, pesawat anti-kapal selam, dan pengintai Y-8 yang telah terbang ke Selat Bashi, yang memisahkan Taiwan dengan Filipina.

Pada Rabu (13/10/2021), China kembali melakukan aktivitas militer, yang mereka sebut sebagai langkah ‘adi’ untuk melindungi perdamaian dan stabilitas. Bagi China, tindakan itu merupakan bentuk protes karena kehadiran pasukan Amerika Serikat (AS) di kawasan Taiwan.

“Tujuan mereka di satu sisi untuk menekan Taiwan, dan di sisi lain untuk mengatakan kepada semua orang bahwa kami memiliki kemampuan untuk menakut-nakuti dan menghalangi pasukan militer asing untuk terlibat,” ungkap Chiu.

Komentar Xi diutarakan ketika ketegangan antara Beijing dan Taipei meningkat seminggu terakhir. Sebelumnya China mengirimkan 150 jet tempur menyerbu zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ), terbesar sepanjang sejarah konflik keduanya.

Sementara itu, seolah membalas Xi, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyampaikan akan terus memperkuat pertahanan negara itu. Ia memastikan tidak ada yang bisa memaksa Taiwan rujuk dengan China. Dia menyebut China tidak menawarkan kebebasan dan juga demokrasi. Lebih lanjut dia menegaskan akan memperkuat pertahanan nasional.

Tsai menyampaikan ulang tawarannya untuk berbicara dengan China atas dasar kesetaraan, meskipun tidak ada tanggapan segera dari Negeri Tirai Bambu. China menyebut Taiwan sebagai separatis yang menolak untuk mengakui Taiwan adalah bagian dari China dan tidak mengakui pemerintah Taiwan.