NATO Semakin Khawatir akan Perkembangan Militer Tiongkok

NATO Semakin Khawatir akan Perkembangan Militer Tiongkok

NATO Semakin Khawatir akan Perkembangan Militer Tiongkok – Hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Rusia secara dramatis terjadi setelah pembubaran Uni Soviet dan pendirian Federasi Rusia pada 1991. Kedua negara tersebut berbagi perbatasan tanah yang panjang yang yang diatur pada 1991.

Dan Antara mereka Telah menandatangani Perjanjian Ketetanggaan yang Baik dan Kerjasama Persahabatan pada 2001. Pada malam kunjungan negara 2013 di Moskow oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin menandai ulang bahwa negara tersebut menjalin hubungan khusus.

Pertemuan para pemimpin NATO di Brussels, Belgia, pada hari Senin, 14 Juni 2021, waktu setempat memunculkan Apk Poker 77 pernyataan dengan menyebut ancaman militer Tiongkok merupakan tantangan sistemik. Namun demikian, pihak aliansi sendiri tidak menginginkan adanya Perang Dingin. Bagaimana awal ceritanya?

1. Kepala NATO memperingatkan Tiongkok telah mendekati NATO dalam hal militer dan teknologi
NATO: Ancaman Tiongkok Merupakan Tantangan Sistemik

Dilansir dari BBC, pertemuan para pemimpin NATO untuk pertemuan puncak di Brussels, Belgia, telah memperingatkan ancaman militer yang ditimbulkan oleh Tiongkok, dengan mengatakan perilakunya adalah tantangan sistemik. Menurut mereka, Tiongkok dengan cepat memperluas persenjataan nuklirnya dan tidak jelas mengenai modernisasi militernya dan bekerja sama secara militer dengan Rusia. Kepala NATO, Jens Stoltenberg, memperingatkan Tiongkok telah mendekati NATO dalam hal militer dan teknologi.

Namun, dia menekankan aliansi tidak menginginkan adanya Perang Dingin baru dengan Tiongkok. NATO adalah aliansi politik dan militer yang kuat antara 30 negara di Eropa dan Amerika Utara serta didirikan setelah Perang Dunia II sebagai tanggapan terhadap ancaman ekspansi komunis. Anggota NATO berjanji untuk mengatasi berbagai tantangan keamanan dan tradisional dan berkembang, termasuk beberapa yang diajukan oleh Tiongkok.

2. Presiden AS mendesak rekan-rekan pemimpin NATO untuk menentang otoriter Tiongkok
NATO: Ancaman Tiongkok Merupakan Tantangan Sistemik

 

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, telah mendesak rekan-rekan pemimpin NATO untuk menenang otoritarianisme Tiongkok dan kekuatan militer yang meningkat, sebuah perubahan fokus untuk aliansi yang dibuat untuk mempertahankan Eropa dari Uni Soviet selama Perang Dingin. Bahasa dalam komunike terakhir KTT, yang akan menetapkan jalan bagi kebijakan aliansi, muncul sehari setelah negara-negara kaya G7 mengeluarkan pernyataan tentang HAM di Tiongkok dan Taiwan yang menurut Tiongkok telah memfitnah reputasinya.

Biden juga mengatakan kepada sekutu Eropa bahwa pakta pertahanan bersama aliansi itu adalah “kewajiban suci” bagi Amerika Serikat, perubahan nada yang mencolok dari pendahulunya, Donald Trump, yang telah mengancam untuk menarik diri dari aliansi serta menuduh Eropa telah berkontribusi terlalu sedikit untuk pertahanan mereka sendiri.

Menurut Biden, ia ingin seluruh Eropa tahu bahwa Amerika Serikat ada di sana serta NATO sangat penting baginya. Kemudian pada konferensi pers, Biden, yang dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Swiss, mengatakan Tiongkok dan Rusia berusaha untuk memecah aliansi transatlantik dan bahwa sementara dia tidak mencari konflik dengan Rusia, NATO akan merespons jika Rusia melanjutkan kegiatannya yang berbahaya. Dia menggambarkan Putin sebagai sosok yang tangguh dan cerdas.

Biden mengatakan Rusia dan Tiongkok sama-sama berusaha untuk menggoyahkan solidaritas transatlantik yang dibuat pihaknya. Dia juga berjanji mendukung Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia, meskipun tidak tidak berkomitmen apakah Ukraina suatu hari bisa bergabung dengan NATO. Ia menambahkan pihaknya akan menempatkan Ukraina pada posisi di mana mereka akan dapat menjaga keamanan fisik mereka.

3. Pihak NATO menjadi semakin khawatir mengenai kemampuan militer Tiongkok yang berkembang
NATO: Ancaman Tiongkok Merupakan Tantangan Sistemik

Menurut komunike KTT, ambisi yang dinyatakan dan perilaku tegas Tiongkok menghadirkan tantangan sistemik terhadap tatanan internasional berbasis aturan dan ke bidan yang relevan dengan keamanan aliansi. Pihaknya tetap prihatin dengan kurangnya transparansi dan penggunaan disinformasi di Tiongkok yang sering terjadi. Tiongkok merupakan salah satu kekuatan militer dan ekonomi terkemuka di dunia, yang Partai Komunis Tiongkok memiliki cengkeraman yang kuat dalam politik, kehidupan sehari-hari, serta sebagian besar masyarakat.

Militer Tiongkok saat ini memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia, dengan lebih dari 2 juta personel bertugas aktif. NATO menjadi semakin khawatir mengenai kemampuan militer Tiongkok yang berkembang, yang dilihatnya sebagai ancaman terhadap keamanan dan nilai-nilai demokrasi anggotanya. Dalam beberapa tahun terakhir, aliansi tersebut juga semakin waspada terhadap aktivitas Tiongkok di Afrika, di mana ia telah mendirikan pangkalan militer.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan ketika datang ke Tiongkok, ia tidak berpikir siapapun di sekitar meja ingin turun ke Perang Dingin baru dengan Tiongkok. Pesan keras NATO di Tiongkok menyusul kritik terhadap negara itu oleh G7. Sebagai tanggapan, Tiongkok menuduh G7 adalah kebohongan, rumor, dan tuduhan tak berdasar dalam sebuah pernyataan melalui Kedutaan Besarnya di Inggris.

Presiden China Xi Jinping menegaskan hubungan antara Tiongkok dan Rusia tidak dapat diputuskan oleh negara ketiga mana pun. Kata dia hubungan tersebut akan mengatasi semua jenis krisis internasional.

Hal itu disampaikan Xi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah percakapan telepon pada Senin (28/12). Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal kepada Amerika Serikat bahwa hubungan Beijing-Moskow tetap kuat.

Dalam percakapan itu, Xi mengatakan hubungan antara China dan Rusia “memiliki nilai independen yang kuat”. Ini menunjukkan bahwa hubungan antar kedua negara akan semakin meningkat, tidak peduli kebijakan apa yang akan diadopsi oleh pemerintahan presiden AS terpilih, Joe Biden.