Joe Biden Tidak Ingin Memulai Konflik Baru Dengan China

Joe Biden Tidak Ingin Memulai Konflik Baru Dengan China

Joe Biden Tidak Ingin Memulai Konflik Baru Dengan China – Hubungan antara Washington dan Beijing telah menyentuh titik terendah selama beberapa dekade, Dan pembicaraan melalui telepon kemarin merupakan perbincangan kedua di antara pimpinan dari kedua negara, sejak Biden menjabat pada Januari.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berjanji akan membantu menyelesaikan berbagai krisis global, mulai dari krisis Iran, semenanjung Korea hingga Ethiopia. Biden menyebut dunia sedang menghadapi dekade yang menentukan, istilah yang merujuk pada persaingan ketat pada era terkini tanpa adanya Perang Dingin baru.

Pernyataan itu disampaikan Biden pada pidato pertamanya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (21/9/2021). Politikus Partai Demokrat tersebut juga menyinggung masalah yang harus segera disikapi para pemimpin dunia, seperti pandemik COVID-19, perubahan iklim dan ancaman siber.

1. Biden tidak ingin memulai Perang Dingin baru dengan China
Joe Biden: Kami Tak Ingin Memulai Perang Dingin Baru dengan China

Dalam pidatonya, Biden sama sekali tidak mengucapkan kata-kata China atau Beijing. Tapi, ia menggunakan istilah implisit pesaing AS yang semakin kuat.

“Kami akan membela sekutu dan teman-teman kami dan menentang upaya negara-negara yang lebih kuat untuk mendominasi negara-negara yang lebih lemah, baik melalui perubahan wilayah dengan paksa, paksaan ekonomi, eksploitasi teknis, atau disinformasi,” kata Biden, sebagaimana dilaporkan Reuters.

“Namun, kami tidak mencari Perang Dingin baru atau dunia yang terbagi menjadi blok-blok kaku,” tambah dia.

Pada saat yang sama, Biden menuturkan  Washington siap bersaing demi mempromosikan demokrasi dan supremasi hukum.

2. Biden ingin semua masalah tuntas dengan diplomasi
Joe Biden: Kami Tak Ingin Memulai Perang Dingin Baru dengan China

Penerus Donald Trump itu turut menyinggung Pakta Aukus, kemitraan keamanan antara AS-Inggris-Australia yang menyulut kemarahan Prancis dan China. Biden menyebutnya sebagai upaya AS untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya dan membela sekutu.

Hal yang menarik, kendati Pakta Aukus merupakan perjanjian yang sarat nuansa militeristik, Biden menggarisbawahi strategi AS ke depan akan fokus pada diplomasi. Menurut dia, diplomasi adalah instrumen yang tepat untuk menghadapi permasalahan pada era baru.

“Misi harus jelas dan dapat dicapai. (Militer AS) tidak boleh digunakan sebagai jawaban untuk setiap masalah yang kita lihat di seluruh dunia. Kami telah mengakhiri 20 tahun konflik Afghanistan, dan saat kami menutup era perang tanpa henti, kami telah membuka era baru diplomasi,” tuturnya.

3. Sederet isu teraktual yang disinggung Biden
Joe Biden: Kami Tak Ingin Memulai Perang Dingin Baru dengan China

Dikutip dari The Straits Times, Biden berharap forum PBB bisa menjadi sarana untuk menyamakan persepsi para pemimpin dunia dalam menghadapi dinamika teraktual.

“Mangatasi tantangan global akan bergantung pada kemampuan kita untuk mengenali kemanusiaan kita bersama,” ucap dia.

Biden menegaskan tetap berkomitmen secara damai menyelesaikan perselisihan dengan Iran mengenai program nuklir. Dia juga bersumpah membela Israel dan mengatakan solusi dua negara dengan Palestina masih diperlukan sebagai tujuan jangka panjang.

Selain itu, AS menginginkan diplomasi berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis seputar program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Biden bahkan menyinggung penindasan etnis Uighur oleh otoritas China di wilayah Xinjiang, sebuah pernyataan yang menyulut tanggapan dari Beijing.

“Itu sama sekali tidak berdasar. AS harus lebih memperhatikan masalah hak asasi manusianya sendiri,” kata utusan China untuk PBB.

Melalui pernyataan resminya, Gedung Putih mengatakan kedua pemimpin melakukan diskusi dalam konteks yang luas dan strategis, termasuk bidang di mana kedua negara memiliki kepentingan yang sama, dan bidang di mana kepentingan, nilai, dan perspektif kedua negara berbeda. Percakapan itu berfokus pada masalah ekonomi, perubahan iklim, dan Covid-19, kata pejabat senior AS itu.

Media pemerintah China mengatakan percakapan bersifat terus terang dan mendalam, dan menambahkan bahwa Presiden Xi menyatakan kebijakan AS terhadap negaranya memunculkan ketegangan dalam hubungan di antara kedua negara.

Media di China menambahkan, kedua belah pihak sepakat untuk menjalin komunikasi lebih kerap, dan meminta tim di tingkat kerja untuk meningkatkan komunikasi.