Jair Bolsonaro Diminta Agar Menghentikan Kritik pada China

Jair Bolsonaro Diminta Agar Menghentikan Kritik pada China

Jair Bolsonaro Diminta Agar Menghentikan Kritik pada China – Vaksin Sinovac adalah vaksin untuk mencegah infeksi virus SARS-CoV-2 atau COVID-19. Vaksin Sinovac yang dikenal juga dengan nama CoronaVac sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. CoronaVac merupakan vaksin yang mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif.

Penyuntikan vaksin Sinovac akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus yang sudah tidak aktif ini dan memproduksi antibodi untuk melawannya sehingga tidak terjadi infeksi COVID-19. Brasil mengumumkan tingkat efikasi CoronaVac sebesar 50,38% pada 12 Januari 2021 berdasarkan data lengkap dari uji coba pada 12.508 peserta; tingkat efikasi ini hampir 30% lebih rendah dari hasil yang diumumkan sebelumnya dan hampir tidak cukup untuk mendapatkan persetujuan dari WHO dan Brasil.

Perusahaan Farmasi China, Sinovac Biotech meminta Presiden Brasil, Jair Bolsonaro agar menghentikan rentetan kritikan kepada Pemerintah China. Kritikan ini dikhawatirkan bisa berdampak pada kesepakatan antara kedua negara terkait Apk Poker 77 vaksin COVID-19. Sejak terpilih pada tahun 2018 lalu, Bolsonaro kerap memberikan kritikan kepada Pemerintah China dan bahkan tak jarang membuat komentar anti China.

1. Presiden Sinovac minta Bolsonaro ubah sikap terhadap China

Sejak pertengahan Mei lalu, Presiden Sinovac Biotech, Yin Weidong mengirimkan surat secara langsung kepada Pemerintah Brasil, terutama Presiden Jair Bolsonaro. Hal ini terkait dengan permintaan Yan agar Presiden Jair Bolsonaro mengubah sikap dan menghentikan kritikan terhadap Pemerintah China.

Yin juga mengatakan bahwa penghentikan kritikan dan komentar anti China akan membuat hubungan dua negara menjadi cair. Selain itu, ia menekankan bahwa dukungan politik akan merealisasikan ekspor dan bahkan memungkinkan adanya preferensi kepada beberapa negara, dilansir dari Reuters.

2. Brasil meminta penjelasan terkait pasokan vaksin yang kurang dari perjanjian
Sinovac Minta Bolsonaro Agar Hentikan Kritik pada China

Sebelumnya sudah ada pertemuan di Kantor Pusat Sinovac untuk mendiskusikan terkait kurangnya suplai bahan baku vaksin yang dikirim ke Brasil. Bahkan diketahui bahan baku vaksin yang hendak diproduksi di Institut Butantan tersebut jumlahnya kurang 25 persen dari kesepakatan awal.

Pada saat itu, Yin juga mengakui bahwa perusahaan juga sedang mengalami kesulitan untuk memenuhi semua permintaan. Selain itu, ia menegaskan bahwa terdapat alokasi proses produksi untuk beberapa klien lainnya.

Maka dari itu, Yin meminta kepada Pemerintah Brasil agar bersedia mengubah sikap dan mencairkan ketegangan hubungan Beijing dan Brasilia. Bahkan di saat yang sama ia juga mengatakan jika Indonesia dan Chile menjadi contoh negara yang memiliki hubungan baik dengan China, dikutip dari BioBioChile.

3. Bolsonaro kritik Pemerintah China pada awal Mei lalu

Pada awal Mei lalu, Presiden Brasil Jair Bolsonaro sempat memberikan kritik bahwa virus COVID-19 merupakan virus buatan. Bahkan ia juga berkata bahwa pandemik ini merupakan perang kimia dan bakteriologi, serta secara tidak langsung menyebut China mendapatkan keuntungan dari adanya situasi ini.

Dilaporkan dari DW, presiden sayap kanan tersebut berkata bahwa, “Ini merupakan virus baru, tidak ada yang tahu jika virus ini lahir dari laboratorium atau lahir karena manusia memakan hewan liar yang tidak seharusnya dimakan. Namun ini ada di sana.”

“Militer tahu bahwa ini merupakan peperangan kimia, bakteriologi dan radiologi. Apakah kita tidak menghadapi perang baru? Di mana negara yang melaporkan PDB tertinggi? Saya tidak akan mengatakannya padamu.”

Pada Maret 2020 lalu, anak Jair Bolsonaro, Eduardo Bolsonaro juga mengritik Pemerintah China sengaja menutupi kabar virus COVID-19 dan menyamakannya dengan Pemerintah Uni Soviet yang menyembunyikan kabar bencana nuklir Chernobyl di tahun 1986.

Turki sebelumnya telah mengumumkan tingkat efikasi sebesar 91,25% dari analisis sementara terhadap 29 kasus yang didasarkan pada data dari 1.322 peserta dalam uji coba dengan 7.371 sukarelawan, sementara Indonesia mengumumkan tingkat efikasi sebesar 65,3% berdasarkan data dari 1.600 peserta dalam uji coba mereka.