Inilah Dampak Kebijakan 3 Anak Pada Ekonomi Tiongkok

Inilah Dampak Kebijakan 3 Anak Pada Ekonomi Tiongkok

Inilah Dampak Kebijakan 3 Anak Pada Ekonomi Tiongkok – Kebijakan satu anak  dilaksanakan oleh negara Tiongkok dari tahun 1978 hingga 2015 sebagai kebijakan keluarga berencana. 76% penduduk mendukung kebijakan ini. Sekitar 250 dan 300 juta kelahiran dicegah dari 1978 hingga tahun 2000 dan 400 juta kelahiran dari 1979 hingga 2010. Kebijakan ini dikeluarkan oleh pemimpin tinggi Deng Xiaoping pada tahun 1979 untuk mengurangi populasi penduduk Tiongkok.

Kebijakan ini bertentangan dengan kebijakan Mao Zedong pada 1949 ‘Dari semua benda di dunia, manusia adalah yang paling utama’. Lebih banyak penduduk, bermakna lebih banyak tenaga kerja. Pemerintah Tiongkok telah membuat perubahan keputusan yang dramatis. Di mana negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu mengumumkan akan mengizinkan pasangan memiliki hingga tiga anak, setelah data sensus menunjukkan penurunan tajam dalam tingkat kelahiran.

Sebelumnya selama puluhan tahun, Tiongkok telah menetapkan kebijakan Deposit IDN Poker Pakai Dana memiliki hanya satu anak, dan baru mengubah aturan itu menjadi dua anak pada 2016. Namun ini telah gagal meningkatkan angka kelahiran yang berkelanjutan. Menurut kantor berita Xinhua, salah satu tujuan kebijakan ini adalah untuk memastikan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

1. Populasi Tiongkok tumbuh pada tingkat paling lambat dalam beberapa dekade
Ini Kata Ekonom soal Dampak Kebijakan 3 Anak ke Ekonomi Tiongkok

Beberapa minggu yang lalu Tiongkok baru melaporkan adanya penurunan yang mengkhawatirkan dalam angkatan kerjanya. Para ekonom memperingatkan dampaknya dapat membatasi pertumbuhan ekonomi.

Sebagaimana dilaporkan CNN, data sensus baru-baru ini menunjukkan bahwa populasi Tiongkok tumbuh pada tingkat paling lambat dalam beberapa dekade, sementara jumlah orang berusia antara 15 sampai 59 tahun turun di bawah 900 juta menjadi sekitar 63 persen dari populasi pada 2020. Itu juga berarti turun sekitar 7 poin persentase dari satu dekade sebelumnya.

Para ahli mengatakan angkatan kerja Tiongkok akan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ke depan sebelum menyusut sekitar 5 persen selama dekade berikutnya.

“Dividen demografis yang mendorong kenaikan ekonomi negara selama beberapa dekade terakhir akan menghilang dengan cepat,” kata Yue Su, seorang ekonom di Economist Intelligence Unit di London, dalam sambutannya yang diterbitkan awal bulan ini.

Itu bisa berarti masalah bagi tujuan kebijakan ekonomi besar yang ditetapkan oleh Presiden Xi, yang telah menetapkan ambisi agar produk domestik bruto (PDB) Tiongkok dapat berlipat ganda pada 2035.

2. Tiongkok miliki kesenjangan yang besar dalam hal kemakmuran
Ini Kata Ekonom soal Dampak Kebijakan 3 Anak ke Ekonomi Tiongkok

Beberapa lembaga ekonomi memang telah memprediksi Tiongkok dapat melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai ekonomi terbesar dunia pada akhir dekade ini. Namun ternyata, negara ini memiliki kesenjangan yang jauh lebih besar untuk ditutup dalam hal kemakmurannya.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), PDB per kapita Tiongkok mencapai 17 ribu dolar AS. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan PDB per kapita AS yang lebih dari 63 ribu dolar.

3. Lebih banyak anak tidak cukup untuk mengatasi krisis demografis
Ini Kata Ekonom soal Dampak Kebijakan 3 Anak ke Ekonomi Tiongkok

Tiongkok memperkenalkan kebijakan satu anak lebih dari 40 tahun yang lalu untuk mengatasi kelebihan penduduk dan pengentasan kemiskinan. Tetapi seiring bertambahnya usia, negara itu mulai melonggarkan kebijakannya. Sebelum mengumumkan kebijakan tiga anak, pada 2015 negara mengumumkan bahwa mereka akan melonggarkan pembatasan untuk mengizinkan hingga dua anak per keluarga.

Namun demikian, respons warga Tiongkok di media sosial Weibo kebanyakan menunjukkan bahwa memiliki lebih banyak anak mungkin tidak cukup untuk mengatasi krisis demografis.

“Ini terutama karena saya merasa lelah,” tulis seorang pengguna Weibo. “Bagaimana saya bisa memiliki anak ketika tekanan dalam hidup begitu tinggi?”

Di sisi lain, hasil survei Xinhua, di mana media itu bertanya kepada pengguna Weibo apakah mereka siap untuk anak ketiga, juga menunjukkan pesimisme. Dari survei online yang menarik lebih dari 30 ribu tanggapan dalam waktu setengah jam itu, lebih dari 90 persen di antaranya memilih “sama sekali tidak mempertimbangkan”. Survei itu telah dihapus.

Analis di Goldman Sachs juga berpendapat bahwa langkah-langkah lain untuk mendorong kesuburan, liberalisasi lebih lanjut dari batas kelahiran, mungkin hanya memberikan bantuan terbatas untuk tingkat kelahiran dan pertumbuhan populasi secara keseluruhan di Tiongkok.

“Populasi di China tampaknya akan mencapai puncaknya dalam lima tahun ke depan dengan populasi usia kerja yang terus menurun,’’ tulisnya dalam sebuah catatan penelitian pekan lalu.

Selama masa jabatan kepemimpinan Mao di Republik Tiongkok, tingkat angka kelahiran menurun dari 37 menjadi 20 per seribu. Sedangkan pada tahun 1949 angka kematian bayipun meningkat menjadi 27/1000, dan terjadi peningkatan angka kelahiran pada tahun 1981 menjadi 53/1000. Peningkatan harapan hidup terjadi secara drastis dari hanya sampai 35 tahun pada tahun 1949 menjadi 66 tahun pada tahun 1976.

Sekitar tahun 1960-an, pemerintah berusaha mendorong para keluarga untuk memiliki keturunan sebanyak mungkin, karena berdasarkan kepercayaan Mao bahwa peningkatan populasi penduduk akan mempengaruhi pertumbuhan sebuah negara, sehingga Mao mencegah program Keluarga Berencana di Tiongkok.

Dari langkah pencegahan Mao terhadap program Keluarga Berencana, membuahkan hasil yakni terjaidnya peningkatan populasi dari angka 540 juta pada tahun 1949 menjadi 940 tahun 1976. Namun awal tahun 1970, para penduduk Tiongkok diharapkan untuk menikah di umur yang dianggap sudah matang dan hanya diperbolehkan memiliki tidak lebih dari 2 anak.