Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota di Sanghai Diusir

Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota di Sanghai Diusir

Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota di Sanghai Diusir – virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.

Puluhan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Tirai Bambu masih tertahan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, sejak pemerintah setempat mengisolasi kota akibat virus Corona.

Syadza Ulima Azalia Khair, anak kedua dari Wali Kota Tarakan Khairul, yang sedang berada di Shanghai, Tiongkok, juga turut merasakan dampaknya Daftar Live22 akibat teror virus Corona.

“Dia dan kawan-kawannya sempat diminta keluar dari dari apartemen di Shanghai,” ujar Khairul saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (27/1) malam.

1. Syadza diminta keluar dari apartemen karena waswas virus Corona
Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota Tarakan di Sanghai Diusir

Khairul mengatakan putrinya dan delapan temannya merupakan mahasiswa kedokteran Hubei University di Xianyang. Jarak antara kota tempat mereka belajar dengan Wuhan empat jam jika perjalanan dengan kereta. Wuhan dan Xianyang adalah kota di Provinsi Hubei.

Pemilik apartemen itu ketakutan lantaran Syadza bersama teman-temannya berasal dari Provinsi Hubei. Lebih-lebih saat Wuhan dinyatakan diisolasi. Sebenarnya, Syadza tak berniat kembali ke Indonesia karena waktu liburannya cukup singkat.

Sejak 19 Januari 2020, Hubei University tak lagi melakukan kegiatan belajar mengajar karena musim dingin, sehingga Syadza bersama temannya memilih liburan ke Shanghai pada 22 Januari.

“Setelah keluar dari apartemen sewaan, putri saya sempat pindah ke hotel, namun hanya semalam. Karena ada kebijakan karantina, yang di luar tak boleh masuk Hubei, begitu juga sebaliknya. Makanya saya minta dia pulang saja, begitu juga dengan kawannya,” cerita Khairul.

2. Anak Khairul akhirnya berhasil pulang ke Indonesia dan negatif virus Corona
Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota Tarakan di Sanghai DiusirSuasana jalan setelah pemerintah Wuhan mengumumkan untuk melarang kendaraan tidak penting di daerah pusat kota untuk membatasi penularan virus corona baru, pada hari kedua Tahun Baru Imlek, di Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, pada 26 Januari 2020. (ANTARA FOTO/cnsphoto via REUTERS)

Wabah virus Corona sebenarnya belum terlalu menjadi momok pada Desember 2019, namun kini penyebarannya tak terbendung. Ini pula yang membuat Khairul khawatir, karena dalam waktu singkat virus ini sudah membunuh 106 orang dan 4.559 lainnya positif terinfeksi.

Belum lagi, sejumlah negara juga ikut merasakan dampaknya. Syukurnya, Syadza bersama temannya berhasil pulang ke Indonesia pada 25 Januari lalu. Berangkat pagi hari dan tiba di Jakarta sore hari. Dia sempat transit di Hong Kong.

Syadza bersama sembilan temannya lolos dari pemindai panas. Mereka negatif virus Corona. “Alhamdulillah dia sudah pulang dua hari lalu,” sebut Khairul.

3. Mahasiswa Indonesia tertahan di Wuhan
Gara-gara Virus Corona, Anak Wali Kota Tarakan di Sanghai DiusirPetugas memeriksa suhu tubuh penumpang sebelum memasuki kereta bawah tanah di depan Stasiun Kereta Beijing, di pusat kota Beijing, Tiongkok, pada 25 Januari 2020. (ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter)

Data Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tiongkok menyebutkan, ada 14.233 pelajar asal Indonesia di negeri Tirai Bambu pada 2018. Jumlah tersebut meningkat 9,48 persen bila dibandingkan pada 2016 yang berjumlah 13 ribu jiwa. Mereka tersebar di sejumlah kampus di Tiongkok. Sedangkan, di Hubei University terdapat 23 mahasiswa asal Indonesia.

Dari kabar yang diterima Syadza, beberapa temannya masih terjebak di Xianyang dan sejumlah daerah di Provinsi Hubei. Mereka tak bisa berbuat banyak selain mengharapkan bantuan dari otoritas setempat dan KBRI, sebab akses transportasi diputus lantaran kebijakan karantina dari pemerintah Tiongkok.

“Mereka kekurangan air, masker, dan makanan. Kami dapat info KBRI di sana berusaha suplai makanan. Semoga mereka sehat selalu,” kata Khairul, mengutip pernyataan Syadza.

Sementara, pemerintah melalui KBRI Beijing terus berupaya menyuplai makanan dan kebutuhan sehari-hari bagi 100 warga negara Indonesia (WNI) yang hingga kini masih tertahan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Mereka tertahan sejak virus Corona meneror negeri Tirai Bambu itu selama dua pekan ini.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melaporkan ketersediaan makanan dan kebutuhan sehari-hari WNI di kota yang saat ini diisolasi itu, hanya akan bertahan selama tiga hingga lima hari ke depan. Untuk mempercepat pasokan logistik masuk ke Wuhan, Dubes RI untuk Tiongkok terus bekerja sama dengan otoritas setempat.

“Perlu diketahui status Wuhan saat ini adalah lockdown, sehingga kita tidak bisa membawa bahan makanan masuk (ke kota itu). Semua pergerakan kita harus dikoordinasikan dengan otoritas Tiongkok termasuk dalam pengiriman logistik,” ucap Retno.

Retno juga menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera melakukan pengiriman masker, melalui maskapai Garuda Indonesia ke Beijing.

“Di Beijing ada biro pengiriman yang mendapat izin dari otoritas Tiongkok untuk masuk ke Wuhan, dan KBRI Beijing kemarin sudah menghubungi biro pengiriman itu untuk membawa masker-masker yang diperlukan WNI di sana,” ucap dia.

Retno menyebutkan berdasarkan data Kementerian Luar Negeri per Selasa (28/1), terdapat 100 WNI di Wuhan, yang terdiri dari 84 mahasiswa dan 16 tamu mahasiswa dari tempat lain. Sedangkan, di Provinsi Hubei secara keseluruhan terdapat 243 WNI.