Filipina Mengutuk Aksi Kapal China di Laut China Selatan

Filipina Mengutuk Aksi Kapal China di Laut China Selatan

Filipina Mengutuk Aksi Kapal China di Laut China Selatan – Sebelumnya,  Penjaga pantai China dilaporkan memblokir dan menembakkan Meriam air ke kapal Manila. Saat mereka hendak menuju Second Thomas Soal di Kepulauan Spratly. Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin mengatakan sangat marah dan telah melontarkan kecaman dan protes.

Diplomat Filipina mengatakan bahwa, peristiwa ini terjadi saat kapal Filipina dalam perjalanan menuju atol. Yang di bawah kekuasaan Filipina di Laut China Selatan. Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin mengatakan tidak ada yang terluka dalam insiden yang di Second Thomas Shoal itu. Departemen Luar Negeri Filipina di Twitter.

Disebutkan bahwa Kapal China tersebut menembakkan meriam air dan memblokir kapal-kapal Filipina di Laut China Selatan. Dilaporkan juga, 3 kapal penjaga pantai China menghalangi 2 kapal Filipina yang hendak membawa pasokan makanan untuk personel militer Filipina di Ayungin Shoal (Second Thomas Shoal). Walaupun tidak ada yang terluka, namun misi tersebut dibatalkan.

1. Filipina ajukan protes pada China

Dari insiden tersebut, Locsin mengajukan protes keras pada China. Disebutkan juga bahwa insiden ini dapat mengancam hubungan khusus Filipina yang telah dijalin antara Presiden Rodrigo Duterte dan Xi Jinping.

“Saya telah menyampaikan dengan tegas kepada dubes China, Huang Xilian dan kepada Kementerian Luar Negeri di Beijing atas kemarahan, kecaman, dan protes kami soal insiden tersebut,” ungkap Menlu Locsin.

“Saya mengingatkan China bahwa kapal publik dilindungi oleh Perjanjian Pertahanan Bersama Filipina-Amerika Serikat.”

Locsin juga menambahkan bahwa, “Tindakan kapal penjaga pantai China adalah ilegal. China tidak memiliki hak penegakan hukum di dalam dan di sekitar wilayah ini. Mereka harus berhati-hati dan mundur,” ungkapnya.

2. Menurut Filipina, Second Thomas Shoal masih berada dalam ZEE-nya
Filipina Kutuk Aksi Kapal China di Laut China Selatan

Atas protes Manila tersebut, pihak Beijing belum memberikan tanggapan,  Nikkei Asia melaporkan. Seperti yang dilaporkan oleh Reuters, Filipina telah menempatkan kapal Angkatan Lautnya sejak tahun 1999 di Second Thomas Shoal sebagai pos terdepannya.

Manila menganggap Second Thomas Shoal yang terletak 105 mil laut (195 km) barat daya wilayah Palawan Filipina sebagai zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil lautnya.

Second Thomas Shoal merupakan bagian dari Kalayan Island Group yang merupakan bagian integral Filipina serta ZEE dan landas kontinen negara tersebut, di mana Filipina berhak atas kedaulatan dan hak berdaulat, juga hak yurisdiksi.

Namun, China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan berdasarkan apa yang dia sebut sebagai ‘nine-dash line’, yang menjadi tumpang tindih dengan wilayah yang diklaim tidak hanya Filipina tapi juga Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan, dikutip dari Al Jazeera.

Pada tahun 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag, memutuskan bahwa klaim ekspansif China di jalur perairan strategis tersebut ditolak.

Keputusan tersebut pun diabaikan oleh China. Beijing malah membangun pulau buatan dan mengarahkan angkatan laut, penjaga pantai, dan armada kapal penangkap ikannya ke laut yang disengketakan.

3. Berbagai protes diplomatik telah dilayangkan oleh Filipina pada China
Filipina Kutuk Aksi Kapal China di Laut China Selatan

Sebelumnya, Filipina telah melakukan serangkaian protes diplomatik atas berbagai aksi yang dilakukan oleh Beijing di wilayah perairannya, seperti awal tahun ini China menempatkan puluhan kapalnya selama berminggu-minggu dengan misi yang disebutnya sebagai milisi maritim China di Whitsun Reef, yang terletak sekitar 320 km (175 mil laut) di barat Pulau Palawan yang masuk dalam ZEE Filipina.

Ketegangan antara China dan Filipina bukan yang pertama. Awal tahun ini, kedua negara juga tegang karena masuknya ratusan kapal China di wilayah sengketa Whitsun Reef, yang juga berada di kepulauan Spratly.

China mengklaim hampir seluruh LCS, laut yang dilalui perdagangan triliunan dolar setiap tahun, sebagai teritorinya. Bukan cuma Filipina, ini juga membuatnya panas dengan Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam. Sebenarnya pengadilan internasional 2016 telah menyatakan klaim historis China tak berdasar. Namun pengabaian dilakukan negara itu.

4. Joe Biden Siap Buka Suara

Biden gelar pesta di gedung putih. (AP/Patrick Semansky)

Amerika Serikat (AS) buka suara mengenai ketegangan China dan Filipina di Laut China Selatan (LCS). Negara pimpinan Presiden Joe Biden itu menuduh China melakukan eskalasi di wilayah itu dan mengancam akan melakukan langkah-langkah lanjutan.

Mengutip AFP, juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan AS akan tetap melindungi Filipina sebagai sekutunya. Ini beririsan dengan perjanjian AS-Filipina 1951 di mana Washington berkewajiban untuk membela sekutunya.