China Menyebut Pidato Presiden Taiwan Memutarbalikkan Fakta

China Menyebut Pidato Presiden Taiwan Memutarbalikkan Fakta

China Menyebut Pidato Presiden Taiwan Memutarbalikkan Fakta – Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, saling serang melalui pidato selama akhir pekan. Keduanya memperebutkan kedaulatan masing-masing wilayah  kekuasaan di tengah peningkatan ketegangan. Saling serang ini bermula ketika Xi menyampaikan pidato.

Dalam pidato itu, Xi menyatakan bakal berupaya untuk menyatukan kembali Taiwan dengan China, konsep yang dikenal dengan sebutan prinsip “Satu China” selama ini. Pemerintah China menyebut pidato Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, pada perayaan Hari Nasional ke-110 Taiwan, menyulut konfrontasi dan memutarbalikkan fakta.

Keterangan Beijing merujuk pada ungkapan Tsai Ing-wen yang menyatakan Taiwan tidak akan tunduk pada intimidasi China. Dia berjanji akan melakukan apapun untuk melindungi negaranya, termasuk memodernisasi alutsista dan meminta otoritas Negeri Tirai Bambu itu tidak berilusi menyatukan China lautan dengan China daratan.

1. China sebut pidato Presiden Taiwan sebagai aksi provokatif
Disebut Halu, China Ingatkan Taiwan Tidak Provokatif

Pekan lalu, hampir 150 jet China melintasi wilayah udara Taiwan. Kementerian Pertahanan mencatat aksi tersebut sebagai provokasi militer terburuk sepanjang sejarah. Taiwan dan banyak negara Barat mengecam hal itu dan menyebut provokasi China sebagai penyebab ketegangan di kawasan.

Sebaliknya, Beijing justru menuduh pernyataan Tsai Ing-wen dan haluan politik luar negerinya sebagai penyebab ketegangan.

“Provokasi kemerdekaan oleh otoritas Partai Progresif Demokratik (partai penguasa saat ini) adalah sumber ketegangan dan turbulensi dalam hubungan lintas selat, serta ancaman terbesar bagi perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” kata pemerintah China.

2. Taiwan ingatkan China tidak berhalusinasi
Disebut Halu, China Ingatkan Taiwan Tidak Provokatif

Beijing menerapkan kebijakan one-China policy yang menganggap Taiwan sebagai wilayah kesatuannya, yang kini berusaha memisahkan diri. Sementara, Taiwan menganggap dirinya sebagai entitas demokrasi, berdaulat, dan independen.

Kemarin, Tsai Ing-wen berjanji akan melakukan segala cara untuk mempertahankan negaranya.

“Tidak ada yang dapat memaksa Taiwan untuk mengambil jalan yang telah dipaksakan China kepada kami,” ujar Tsai, dikutip dari Al Jazeera.

“(China) seharusnya sama sekali tidak memiliki ilusi bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan. Ini karena jalan yang telah ditetapkan China tidak menawarkan cara hidup yang bebas dan demokratis bagi Taiwan, atau kedaulatan bagi 23 juta orang kami,” kata dia, menambahkan.

3. China sebut pemisahan Taiwan sebagai hambatan untuk kebangkitan nasional
Disebut Halu, China Ingatkan Taiwan Tidak Provokatif

Pada Sabtu (9/10/2021), pemerintah China juga mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk memperingati 110 tahun Revolusi 1911.

Dalam pidatonya, Presiden China Xi Jinping menyebut Taiwan sebagai produk kelemahan dan kekacauan negaranya pada masa lalu. Karena itu, dia berjanji akan menyelesaikan persoalan Taiwan ketika visi revitalisasi nasional menjadi kenyataan.

Xi menggambarkan pemisahan diri Taiwan sebagai tantangan utama untuk mewujudkan peremajaan nasional. Pada saat yang sama, Xi menegaskan keinginannya mewujudkan reunifikasi damai.

“Mereka yang melupakan warisan mereka, mengkhianati tanah air mereka, dan berusaha memecah belah negara, tidak akan berakhir dengan baik,” kata Xi dikutip dari Xinhua.

“Reunifikasi lengkap negara kita (China dan Taiwan) akan dapat diwujudkan,” kata dia, menambahkan.

Xi kemudian menyatakan bahwa reunifikasi ini akan dilakukan atas dasar kepentingan rakyat Taiwan. Namun, Xi menegaskan bahwa China akan melindungi kedaulatan dan kesatuannya.

“Tak ada yang boleh meremehkan tekad teguh, keinginan kuat, dan kemampuan besar rakyat China untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya,” ucap Xi.

Sehari kemudian, Minggu (10/10), Tsai lantas membalas pernyataan Xi itu melalui pidato perayaan Hari Nasional Taiwan. Tsai sekali lagi menegaskan bahwa ia ingin meredakan ketegangan di Selat Taiwan selama beberapa waktu belakangan.

Ia juga menegaskan bahwa Taiwan tak akan “bertindak gegabah.” Namun, Tsai menekankan sikapnya ini tak boleh diartikan bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan.

“Kami akan terus meningkatkan pertahanan nasional kami dan menunjukkan tekad kami untuk melindungi diri sendiri demi memastikan tak ada siapapun yang dapat memaksa Taiwan mengambil jalan yang sudah ditetapkan China untuk kami,” ucap Tsai.