China Mengatakan Bahwa Taiwan Tidak Berhak Bergabung di PBB

China Mengatakan Bahwa Taiwan Tidak Berhak Bergabung di PBB

China Mengatakan Bahwa Taiwan Tidak Berhak Bergabung di PBB – Pemerintah China bersikeras bahwa Taiwan tidak memiliki hak untuk bergabung dengan PBB. Sikap ini ditunjukkan China setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan seruan agar negara-negara anggota PBB mendukung terlibatnya Taiwan lebih jauh dengan badan-badan yang ada di PBB.

“Taiwan tidak punya hak untuk bergabung dengan PBB,” kata Ma Xiaoguang, juru bicara Kantor Urusan Taiwan di Beijing, kepada wartawan, seperti dikutip dari Channel News Asia. “PBB adalah organisasi pemerintah internasional yang terdiri dari negara-negara berdaulat.

Taiwan adalah bagian dari China,” lanjutnya. Pernyataan itu disampaikan Beijing satu hari setelah Amerika Serikat (AS) meminta dukungan internasional, supaya negara itu bisa diterima dalam PBB.

1. AS minta komunitas internasional mendukung Taiwan
China Sebut Taiwan Tidak Memiliki Hak Bergabung PBB

Sebagai informasi, Taiwan menjadi anggota PBB mewakili Republik Rakyat China hingga 25 Oktober 1971. Sejak saat itu, PBB mengeluarkan keanggotaan Taiwan dan menggantinya dengan China.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyesalkan keputusan komunitas internasional yang mengucilkan peran Taiwan di panggung global. “Partisipasi bermakna Taiwan dalam sistem PBB bukanlah masalah politik, tetapi masalah pragmatis,” kata Blinken. “Itulah sebabnya kami mendorong semua negara anggota PBB untuk bergabung dengan kami, mendukung partisipasi Taiwan yang kuat dan berarti di seluruh sistem PBB dan di komunitas internasional,” sambungnya.

Washington sendiri tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taipei. Pada 1979, mereka mengalihkan pengakuannya kepada Beijing. Sejak itu, Gedung Putih menerapkan kebijakan yang dianggap ‘ambigu’, karena mematuhi rezim one-china policy namun tetap mendukung Taiwan.

2. Taiwan menyambut dukungan AS
China Sebut Taiwan Tidak Memiliki Hak Bergabung PBB

Sejumlah pengamat khawatir dukungan AS akan menyulut konfrontasi China.

Dalam beberapa bulan terakhir, China secara teratur mencatat rekor jumlah jet tempur yang diterbangkan di dekat Taiwan. Beijing baru-baru ini mengadakan latihan pendaratan pantai di sisi Selat Taiwan.

Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut provokasi yang dilakukan negara tetangganya sebagai yang terburuk dalam 40 tahun terakhir.

Beberapa hari sebelumnya, China juga mengecam pernyataan Presiden AS, Joe Biden, yang menegaskan komitmennya untuk melindungi Taiwan jika ada negara yang menginvasi.

Presiden Tsai Ing-wen menyambut baik dukungan Blinken dalam meningkatkan partisipasi Taiwan di tataran internasional.

“Bersyukur atas dukungan #AS untuk memperluas partisipasi internasional #Taiwan. Kami siap bekerja dengan semua mitra yang berpikiran sama, untuk menyumbangkan keahlian kami dalam organisasi, mekanisme, & acara internasional,” tulis Tsai melalui akun Twitter-nya.

3. Perlombaan senjata dengan China bukan tujuan Taiwan

Terkait dinamika terkini, otoritas pertahanan Taiwan menyatakan bahwa mereka tidak berminat untuk menyaingi kapasitas militer China. Namun, Taiwan berjanji untuk mempertahankan diri dari segala tekanan, salah satunya melalui modernisasi persenjataan dan alutsista.

China telah memulai program modernisasi militer dengan membangun kapal induk baru dan pesawat tempur siluman. Di sisi lain, Taiwan juga meningkatkan anggaran militernya untuk mengembangkan rudal dan kapal selam.

Dalam laporannya kepada parlemen, Kementerian Pertahanan Taiwan menggambarkan situasi di Selat Taiwan dalam kondisi ‘parah dan tidak stabil’.

“Taiwan tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata dengan militer Komunis China dan tidak akan mencari konfrontasi militer, (tapi) berharap untuk hidup berdampingan secara damai di seberang selat,” terang Kementerian Pertahanan Taiwan, dilansir dari Reuters.

“Tetapi dalam menghadapi ancaman Komunis China terhadap keamanan nasional kami, kami akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan kedaulatan negara kami dan tidak akan pernah menyerah di bawah tekanan,” ujarnya.

Pekan lalu, Presiden AS, Joe Biden mengatakan bahwa AS siap untuk mempertahankan Taiwan dari invasi China. Komentar itu dengan cepat ditanggapi oleh Gedung Putih di tengah peringatan dari China.

Blinken lalu menegaskan kembali bahwa AS masih hanya mengakui Beijing. Namun, dia menekankan kredensial demokrasi dari pulau berpenduduk 23 juta orang itu.