Australia Bela Taiwan & Mengecam China yang Memicu Konflik

Australia Bela Taiwan & Mengecam China yang Memicu Konflik

Australia Bela Taiwan & Mengecam China yang Memicu Konflik – Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, mengatakan negaranya sedang mempersiapkan diri untuk berperang melawan China. Mereka mendesak Australia untuk meningkatkan kerja sama keamanan dan berbagi data intelijen di saat China meningkatkan intimidasi militer.

Mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengecam China, menyebut negara itu telah memicu permusuhan di antara kedua negara.  Hal itu ia sampaikan saat melakukan kunjungan ke Taipei untuk bertemu dengan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Dalam pernyataannya, Abbott mengatakan bahwa dua tahun yang lalu, ia ragu untuk menghadiri konferensi di Taiwan lantaran tidak ingin memprovokasi China. Namun, menurutnya, China sejak itu telah melakukan berbagai kesalahan.

Dia memaparkan sejumlah tindakan China seperti melanggar perjanjian “satu negara, dua sistem” di Hong Kong, menempatkan lebih dari satu juta orang Uighur ke dalam kamp-kamp konsentrasi, meningkatkan mata-mata dunia maya pada warganya sendiri, hingga menyerang Taiwan secara mendadak. Ia juga mengecam China yang telah menyerang ekspor Australia, seperti gandum, anggur, dan batu bara.

1. Australia membantu China tumbuh
Kecam Keras China, Australia Membela Taiwan

Abbott lebih lanjut mengatakan bahwa China adalah ekonomi yang cemerlang, mencatatkan pertumbuhan signifikan selama beberapa tahun lalu dan mengangkat setengah miliar orang keluar dari jurang kemiskinan dalam waktu singkat.

“Mungkin kemajuan terbesar dan tercepat dalam kesejahteraan manusia sepanjang sejarah,” katanya.

Ia juga mengakui bahwa seluruh dunia telah mendapat manfaat dari produktivitas China, termasuk Australia. Namun, ia juga menekankan bahwa itu semua berhasil dicapai China karena ada keterlibatan Australia.

Abbott mengatakan bahwa pemerintah Australia menyelesaikan kesepakatan perdagangan bebas pertama China dengan negara G20 lain, karena menyadari itu akan membantu membangun kepercayaan antara China dan negara demokrasi.

Ia juga mengatakan bahwa sebagai perdana menteri, ia siap untuk bergabung dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipimpin China karena ia berpikir itu akan membantu memberi China ruang dalam tatanan global yang berbasis aturan.

“Bagi Beijing, tentu ada pelajaran di sini: semakin banyak kebebasan yang dimiliki rakyatnya, semakin baik yang mereka lakukan; dan semakin dihormatinya China,” ujarnya.

“Jadilah teman, dengan pengalaman itu, dan Anda akan punya teman; jadilah pengganggu, dan Anda hanya akan memiliki klien, yang tidak sabar untuk melarikan diri.”

2. Australia tidak memiliki masalah dengan China
China dan Australia: Foto palsu yang menyebabkan hubungan dua negara pada  'titik kritis' - BBC News Indonesia

Abbott lebih lanjut mengatakan bahwa Australia tidak memiliki masalah dengan China. Ia menekankan bahwa Australia menyambut perdagangan, investasi, dan kunjungan China. Hanya saja secara terbatas.

Ia juga menceritakan bahwa dua minggu yang lalu, Profesor Victor Gao, seorang analis senior Beijing dan mantan penerjemah untuk Deng Xiaoping, secara langsung mengancam warga Australia. Abbott menyebut profesor itu bertanya apakah warga Australia itu ingin menjadi target kemungkinan perang nuklir.

Ia menjelaskan bahwa ancaman itu disampaikan setelah Australia mengakuisisi kapal selam bertenaga nuklir yang tidak bersenjata nuklir.

“Jadi, jika “gendang perang” dapat terdengar di wilayah kami, seperti yang disampaikan oleh seorang pejabat kami, bukan Australia yang memukulnya,” katanya.

“Satu-satunya gendang yang kami pukul adalah untuk keadilan dan kebebasan–kebebasan bagi semua orang, di China dan Taiwan, untuk membuat keputusan sendiri tentang kehidupan dan masa depan mereka.”

3. China memusuhi Taiwan
Kecam Keras China, Australia Membela Taiwan

Abbott juga mengatakan sikap China bermusuhan pada Taiwan, mungkin dipicu oleh kesadaran bahwa kekuatan relatif negara Tirai Bambu itu mungkin telah mencapai puncaknya, populasinya menua, ekonominya melambat, dan keuangannya memburuk.

“Sangat mungkin bahwa Beijing dapat segera menyerang dengan membawa malapetaka,” katanya. “Tantangan kami adalah mencoba memastikan bahwa hal yang tidak terpikirkan tetap tidak mungkin, dan bahwa kemungkinan tidak menjadi kemungkinan.”

Abbott lebih lanjut mengatakan bahwa hubungan negaranya dengan Taiwan kini menjadi sangat penting. Pihaknya menegaskan bahwa masa depan Negeri Formosa harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, dan bahwa setiap upaya pemaksaan akan memiliki konsekuensi yang tak terhitung.

“Ini bukan satu-satunya titik nyala potensial di dunia: ada Israel, tidak pernah-tidak berada di bawah ancaman eksistensial; dan Ukraina, diancam oleh Tsar baru; tetapi tidak ada perjuangan antara kebebasan dan tirani yang lebih kejam daripada melintasi Selat Taiwan,” jelasnya.

Ia juga memuji Taiwan karena dalam tujuh dekade ini telah berkembang dari negara diktator yang miskin menjadi negara demokrasi yang makmur dan melakukannya tanpa mengorbankan kemakmuran atau anarki.

Belasan pesawat tempur militer China yang disebut People’s Liberation Army (PLA), terbang di atas kawasan Zona Pertahanan Udara Taiwan (AZIZ). Ini membuat Taiwan kemudian mempersiapkan armada pesawat militer mereka.

Berbicara dalam program China Tonight di ABC, Menlu Joseph mengatakan bila pesawat PLA melancarkan serangan, maka negaranya akan siap untuk mempertahankan diri.