Xi Jinping Ingatkan AS Bahwa China Akan Ambil Langkah Tegas

Xi Jinping Ingatkan AS Bahwa China Akan Ambil Langkah Tegas

Xi Jinping Ingatkan AS Bahwa China Akan Ambil Langkah Tegas –  Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan virtual membahas sejumlah masalah penting. Masalah utama yang dibahas dalam pertemuan itu adalah Tibet, Hong KOng & Xinjiang. Menurut Gedung Putih, dalam pertemuan itu, Biden menyuarakan keprihatinan tentang praktik China di Xinjiang, Tibet dan Hong Kong dan masalah hak asasi manusia yang lebih luas.

Presiden Xi Jinping memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa China akan mengambil langkah tegas, jika Taiwan memperlihatkan keinginan untuk menjadi negara merdeka. Xi juga memperingatkan Presiden AS, Joe Biden, bahwa mendukung kemerdekaan Taiwan sama saja seperti ‘bermain api’. Xi juga mewanti-mewanti kepada siapa pun yang ‘bermain api’ harus siap ‘terbakar’.

Dilansir The Guardian, bahasa tersebut mencerminkan rektorika nasionalis China, yang maknanya semakin kuat karena disampaikan pada pertemuan setingkat kepala negara. Pertemuan Xi-Biden dihelat secara virtual dari pukul 08.45 hingga 12.24 waktu Beijing.

1. Joe Biden tegaskan kebijakan ambigu AS
Xi Jinping Ancam Joe Biden untuk Tidak 'Bermain Api' 

Pernyataan Xi merujuk pada ungkapan Biden beberapa saat lalu, yang menegaskan komitmen AS untuk melindungi Taiwan jika China sewaktu-waktu menginvasi.

Sebagai tanggapan, Biden mengatakan bahwa AS tetap berpegang teguh pada Kebijakan Satu China, yang hanya mengakui satu negara China berdaulat. Biden juga menyampaikan, Washington menentang segala upaya sepihak untuk mengubah status quo terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Ungkapan itu merefleksikan sikap AS yang ambigu selama ini. Di satu sisi, Biden tampak tidak ingin Taiwan mendeklarasikan kemerdekaan. Di sisi lain, Biden turut berharap supaya China tidak melakukan invasi.

Presiden ke-46 AS juga mengingatkan Xi bahwa mereka berdua memiliki tanggung jawab internasional untuk memastikan stabilitas global, sebagai negara sesama anggota Dewan Keamanan PBB serta dua kekuatan ekonomi dunia.

2. Tujuan dialog adalah mengelola konflik
Xi Jinping Ancam Joe Biden untuk Tidak 'Bermain Api' 

Media pemerintah China menggambarkan pembicaraan itu sebagai pertemuan yang jujur, konstruktif, substantif, dan bermanfaat.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya melaporkan, pertemuan berlangsung dengan hormat, lugas, dan terbuka. Kendati begitu, dia menegaskan bahwa tujuan dari dialog adalah mengelola konflik, tidak mengharapkan suatu terobosan hebat.

“Kami tidak mengharapkan terobosan. Tidak ada yang dilaporkan. (Dialog) ini tentang mengembangkan cara untuk mengelola persaingan secara bertanggung jawab, memastikan bahwa saat kami maju, AS dan China memiliki keadaan yang stabil, yang mana kami bertindak kompetitif tetapi tetap mempertahankan komunikasi,” kata pejabat itu.

3. Biden ingin membangun koridor hubungan AS-China
Xi Jinping Ancam Joe Biden untuk Tidak 'Bermain Api' 

Salah satu harapan Biden dari pertemuan tersebut adalah kedua negara bisa menyepakati batasan-batasan dalam bersikap dan berkomunikasi. Dengan demikian, tidak ada kebijakan atau sikap yang melewati ‘batas’.

“Kita perlu membangun pagar pembatas akal sehat, untuk menjadi jelas dan jujur saat tidak setuju, dan bekerja sama saat kita bersinggungan, terutama pada isu-isu global seperti perubahan iklim,” terang Biden.

“Tampaknya menjadi tanggung jawab kita, sebagai pemimpin China dan AS, untuk memastikan bahwa persaingan antar negara kita tidak mengarah ke konflik, baik disengaja atau tidak disengaja,” tambah dia.

Biden juga menegaskan kepada Xi bahwa AS tetap pada komitmen kebijakan satu China terkait Taiwan dan keduanya berjanji untuk bekerjasama dalam masalah energi dan iklim.

Namun dalam pertemuan itu, Xi menegaskan kepada Biden bahwa China akan mengambil langkah tegas jika pasukan pro kemerdekaan Taiwan melewati garis merah yang ditetapkan Beijing.

China mengklaim Taiwan Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai miliknya. Beijing telah berjanji untuk membawa pulau itu di bawah kendali China, dengan paksa jika perlu.

Kedua pemimpin menekankan tanggung jawab mereka kepada dunia untuk menghindari konflik.