Tiongkok Diprediksi Greenpeace Mengalami Musim Panas Panjang

Tiongkok Diprediksi Greenpeace Mengalami Musim Panas Panjang

Tiongkok Diprediksi Greenpeace Mengalami Musim Panas Panjang – Greenpeace adalah suatu lembaga swadaya masyarakat, organisasi lingkungan global, yang memiliki cabang di lebih dari 40 negara dengan kantor pusat di Amsterdam, Belanda.

Greenpeace didirikan di Vancouver, British Columbia, Kanada pada 1971 dengan latar belakang penghentian percobaan nuklir yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat di Amchitka, Alaska. Para aktivis mengirimkan kapal sewaan, Phyllis Cormack, yang diubah namanya menjadi Greenpeace, ke lokasi pengujian nuklir. Mereka lalu mengadopsi nama Greenpeace menjadi nama organisasi.

Pihak Greenpeace Asia Timur memprediksi Tiongkok akan menghadapi idn poker versi lama musim panas yang ekstrim dalam waktu yang lebih lama. Kedua kota besar di Tiongkok seperti Beijing dan Shanghai akan mengalami dampak tersebut.

1. Hal itu berarti lebih banyak paparan gelombang panas berbahaya bagi para orangtua dan yang bekerja di luar ruangan
Greenpeace Prediksi Tiongkok Hadapi Musim Panas Ekstrim

Dilansir dari Aljazeera.com, pihak Greenpeace Asia Timur memprediksi pusat kota utama Tiongkok, termasuk Beijing dan Shanghai, diperkirakan akan menghadapi musim panas yang lebih panas dari sebelumnya serta lebih lama, serta hujan yang lebih deras selama beberapa bulan.

Mereka memetakan kondisi cuaca ekstrim akibat perubahan iklim pada hari Rabu, 14 Juli 2021, waktu setempat. Pihak Greenpeace Asia Timur mengatakan risiko panas ekstrim dan curah hujan yang tinggi di pusat kota berpenduduk padat tetapi tumbuh cepat di komunitas yang menjadi lebih urban di pinggiran kota-kota besar Tiongkok.

Hal itu berarti lebih banyak paparan gelombang panas berbahaya bagi orangtua dan mereka yang bekerja di luar ruangan serta banjir yang lebih besar di kota-kota seperti Shanghai. Menurut pemimpin proyek iklim dan energi untuk Greenpeace di Beijing, Liu Junyan, mengatakan area perkotaan masih belum sepenuhnya memahami berbagai perubahan dan mana yang akan berdampak pada area mana serta bagaimana cukup untuk siap menghadapinya.

Studi ini menemukan bahwa Beijing mengalami peningkatan terbesar dalam suhu rata-rata, naik pada tingkat 0,32 derajat Celcius setiap 10 tahun, dengan frekuensi gelombang panas meningkat cukup sejak tahun 2000 lalu.

2. Pada bulan Februari 2021 lalu, suhu sempat melonjak hingga 25,5 derajat Celcius selama musim dingin
Greenpeace Prediksi Tiongkok Hadapi Musim Panas Ekstrim

Pada bulan Februari 2021 lalu, suhu sempat melonjak dengan menyentuh angka 25,5 derajat Celcius di beberapa daerah, tertinggi yang tercatat selama musim dingin. Pihak Greenpeace mengatakan musim panas juga akan diperpanjang antara 24 dan 28 hari di Shanghai serta lebih dari 40 hari di Provinsi Guangdong Selatan. Beberapa bagian dari Provinsi Shanghai dan Guangdong juga akan mengalami kenaikan lebih dari 25 persen dalam curah hujan yang ekstrim, sementara wilayah barat laut akan mengalami lebih banyak kekeringan.

Peringatan yang disampaikan Greenpeace mengikuti penelitian serupa yang menunjukkan peningkatan risiko di Tiongkok dari panas ekstrim yang terkait dengan perubahan iklim. Sebuah studi pada bulan Juli 2018 lalu yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications mencatat bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas yang diamati di Tiongkok telah meningkat secara signifikan selama 50 tahun terakhir.

Ia juga memperingatkan bahwa sebanyak 400 juta orang di Tiongkok bagian utara, termasuk Beijing, dapat dipengaruhi oleh gelombang panas yang mematikan pada tahun 2100 ini.

Sebuah laporan Desember 2020 lalu yang diterbitkan oleh The Lancet, sebuah jurnal medis terkemuka, mengatakan bahwa kematian terkait gelombang panas di Tiongkok telah meningkat dengan faktor empat dari 1990 hingga 2019 lalu, yang mencapai 26.800 kematian pada tahun 2019 lalu.

3. Berdasarkan sebuah jurnal, Beijing dan Shanghai termasuk 25 kota di seluruh dunia yang menghasilkan 52 persen gas pemanasan iklim
Greenpeace Prediksi Tiongkok Hadapi Musim Panas Ekstrim

Pada hari Senin, 12 Juli 2021, lalu, sebuah jurnal Frontiers in Sustainable Cities mengatakan bahwa Beijing dan Shanghai termasuk di antara 23 kota Tiongkok di 25 pusat kota teratas di seluruh dunia yang menghasilkan 52 persen gas pemanasan iklim setiap tahunnya.

Daftar ini juga mencakup Tokyo dan Moskow, serta kota-kota di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia masih memimpin dalam daftar mengenai hal per kapita, meskipun beberapa kota Tiongkok seperti Yinchuan dan Dalian serta Urumqi di Xinjiang juga mencatat emisi per kapita yang mendekati tingkat negara maju.

Pada September 2020 lalu, Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengatakan Tiongkok bertujuan untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida sebelum tahun 2030 ini dan emisi nol bersih sebelum 2060 ini, sebagai bagian dari komitmen negara untuk mengekang perubahan iklim.

Daerah perkotaan Guangzhou yang luas, di pantai selatan Tiongkok menonjol dalam studi Greenpeace Asia Timur, yang menemukan bahwa 73 darii 98 gelombang panas dalam 60 tahun terakhir di wilayah itu terjadi setelah tahun 1998 lalu.

Jumlah rata-rata hari di Guangzhou dengan panas ekstrim yang mencapai 35 derajat Celcius telah meningkat dari 16,5 hari per tahun menjadi 23,7 hari per tahun sejak saat itu.

Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung tanpa kekerasan, konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan berbagai aksi perusakan lingkungan seperti pengujian nuklir, penangkapan paus besar-besaran, deforestasi, dan sebagainya.

Organisasi global ini menerima pendanaan melalui kontribusi langsung dari individu yang diperkirakan mencapai 2,8 juta para pendukung keuangan, dan juga dari yayasan amal, tetapi tidak menerima pendanaan dari pemerintah atau korporasi.