Penambang China di Mukera Mendapat Serangan Dari Orang Asing

Penambang China di Mukera Mendapat Serangan Dari Orang Asing

Penambang China di Mukera Mendapat Serangan Dari Orang Asing – Lima pekerja asal China dilaporkan diculik dalam serangan bersenjata di sebuah tambang emas di Republik Demokratik Kongo (RDK). Kabar penyerangan dan penculikan di dekat desa Mukera di Provinsi Kivu Selatan itu sudah di konfirmasi Kedutaan Besar China dan pihak keamanan setempat pada hari yang sama.

Insiden pada area pertambangan emas di Republik Demokratik Kongo kembali terjadi. Kali ini beberapa penambang asal China di Mukera mendapat serangan dari sekelompok orang tak dikenal dan bahkan lima orang di antaranya diculik.

Selama ini, RD Kongo tengah diselimuti masalah keamanan dan ketidakstabilan lantaran adanya kelompok militan yang beroperasi di bagian timur negaranya. Para pemberontak umumnya melakukan patroli untuk menjaga sumber daya alam di timur RD Kongo.

1. Serangan militan sebabkan tewasnya satu polisi hutan

Peristiwa penyerangan oleh kelompok militan ini terjadi pada Sabtu malam di Kivu Selatan, RD Kongo. Bahkan, serangan ini telah mengakibatkan tewasnya seorang polisi hutan dan satu anggota polisi lainnya mengalami luka-luka.

“Sekitar pukul 02.00 dini hari, lokasi kamp dari sekelompok penambang asal China diserang oleh bandit di Mukera, yang terletak 25 km dari Fizi. Diketahui sebanyak 14 warga China di sana dan lima di antaranya diculik oleh kelompok militan dan sembilan lainnya berhasil dievakuasi” ungkap petinggi militer regional, Mayor Dieudonné Kasereka.

Sementara itu, kelima warga negara China itu merupakan staf dari perusahaan pertambangan emas asing yang sudah beroperasi selama lima bulan. Namun, selama ini perusahaan sulit beroperasi lantaran banyaknya penolakan dan protes dari penduduk setempat, dilaporkan dari Africa News.

2. Pemerintah China memperingatkan warganya agar keluar dari Kivu Selatan

Associated Press melansir, Pemerintah China sudah mengonfirmasi kasus penculikan warga negaranya di RD Kongo. Kemudian, Kedutaan Besar China di Kinshasa mengumumkan dalam pesan WeChat untuk seluruh warga negaranya agar segera pergi dari Kivu Selatan.

Hal ini dilakukan lantaran situasi yang sangat berbahaya dan tidak kondusif, sehingga kemungkinan adanya bantuan kepada korban serangan dan penculikan sangatlah kecil. Selain di Kivu Selatan, pihak kedubes juga menganjurkan warganya agar segera meninggalkan Provinsi Kivu Utara dan Ituri.

“Semua warga negara China yang bekerja di Kongo harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi setempat, tingkatkan kepekaan keamanan dan kesiapsiagaan darurat dan menghindari bepergian ke luar kota” ungkap Kedubes China di RD Kongo.

3. Terjadi penolakan aktivitas pertambangan China di RD Kongo
RD Kongo: 5 Warga China Diculik Kelompok Pemberontak

Selama ini pertambangan asing di RD Kongo, terutama dari China tengah mendapat protes dan penolakan dari penduduk setempat. Pada Agustus lalu, Gubernur Kivu Selatan Theo Kasi telah menghentikan sementara enam pertambangan dari perusahaan China dan mengharuskan pekerja lokal maupun asing untuk pergi.

Di sisi lain, Presiden Felix Tshisekedi sedang melakukan pengkajian perjanian infrastruktur mineral dengan investor China yang senilai 6 miliar dolar AS atau Rp85,6 triliun. Pasalnya, perjanjian itu disetujui pada masa kepemimpinan eks Presiden Joseph Kabila.

Tshisekedi menduga bahwa kontrak pertambangan dengan China harus dikaji kembali lantaran diduga tidak menguntungkan bagi RD Kongo. Padahal, RD Kongo merupakan negara penghasil kobalt terbesar di dunia, sekaligus penghasil tembaga terbesar di Afrika, dikutip dari CNN.

Dilaporkan dari Associated Press, beberapa kelompok militen telah beroperasi di wilayah timur RD Kongo yang meliputi, FDLR (Forces démocratiques de libération du Rwanda), Mai-Mai dan M23 yang kerap mengontrol dan berupaya menjaga sumber daya alamnya.

Di sisi lain, China juga terus melakukan investasi untuk mengeruk mineral dan sumber daya alam di RD Kongo beserta negara-negara Afrika lain yang tengah dilanda ketidakstabilan. Alhasil, pekerja asal China kerap menjadi objek penculikan dan serangan, seperti halnya yang terjadi di Pakistan dan negara lainnya.

Kedutaan mengatakan bahwa situasi keamanan di sejumlah provinsi termasuk Province de l’Ituri, Province du Nord Kivu dan Province du Sud Kivu sangat parah, dan serangan bersenjata yang melibatkan orang-orang China telah terjadi di tempat-tempat ini berkali-kali.

4. Peringatan dari kedutaan

9-5-1999: Ledakan Bom di Kedubes China untuk Serbia Picu Kemarahan Warga  Tiongkok - Global Liputan6.com

Kedutaan juga telah mengeluarkan peringatan agar warganya tidak bepergian ke provinsi-provinsi tersebut, dan menyarankan agar warga yang terlanjur berada di provinsi itu untuk segera mengungsi. Belum jelas siapa yang melakukan serangan di dekat desa Mukera di provinsi Kivu Selatan itu, di mana sebuah kelompok bersenjata terlibat baku tembak dengan polisi.

Menurut Sputnik News, seorang perwira polisi setempat tewas dalam peristiwa itu, sementara menyebut jumlah warga China yang diculik ada delapan orang. Kongo adalah produsen kobalt tambang terbesar di dunia – bahan utama baterai untuk kendaraan listrik – dan salah satu produsen tembaga terbesar di Afrika.