Menteri Luar Negeri Taiwan Tuduh Tiongkok ingin Tiru Taliban

Menteri Luar Negeri Taiwan Tuduh Tiongkok ingin Tiru Taliban

Menteri Luar Negeri Taiwan Tuduh Tiongkok ingin Tiru Taliban – China membangun hubungan baru dengan kelompok Taliban yang menguasai Afghanistan. Bahkan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan kepada dunia agar membantu Taliban di Afghanistan bukan menekan atau mengucilkannya. Merespon kekacauan yang terjadi di Afghanistan, Presiden AS Joe Biden meminta pasukan militer AS untuk tidak meninggalkan warga AS yang berada di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, menuduh Tiongkok ingin meniru Taliban yang kini menguasai Afghanistan. Istilah itu Wu sampaikan karena Beijing melihat Taipei sebagai wilayah yang ingin memisahkan diri, sementara Tiongkok bersumpah akan merebut kembali Taiwan sekalipun menggunakan kekerasan. Dikutip dari The Straits Times, Wu mengatakan bila dia tidak ingin Taiwan, yang saat ini menerapkan sistem demokrasi.

Menjadi sasaran komunisme atau jatuh ke cengkeraman rezim yang melakukan idn poker mobile kejahatan kemanusiaan. Kejatuhan Kabul menjadi topik propaganda media pemerintah Tiongkok. Mereka menggelorakan narasi bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan melindungi Taiwan, sama seperti Washington yang tidak peduli dengan situasi di Afghanistan dan tetap memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukannya.

1. Taiwan berterima kasih kepada AS
Taiwan Tuduh Tiongkok Ingin Meniru Taliban, Berkuasa Pakai Senjata

Menanggapi propaganda yang beredar, Wu justru berterima kasih kepada AS yang terus menjunjung tinggi keinginan dan kepentingan terbaik bagi rakyat Taiwan.

“Mereka termasuk (negara) demokrasi dan bebas dari komunisme, otoritarianisme dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Wu.

“China bermimpi meniru Taliban, tapi izinkan saya terus terang, kami punya kemauan dan sarana untuk membela diri,” tambahnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Tiongkok tidak segera memberi tanggapan atas pernyataan itu.

2. Kebangkitan Taliban harus menjadi momentum untuk memperkuat pertahanan negara
Taiwan Tuduh Tiongkok Ingin Meniru Taliban, Berkuasa Pakai Senjata

Sebelumnya, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan, kebangkitan Taliban harus menjadi momentum untuk memperkuat pertahanan. Menurut Tsai, kejatuhan Kabul mengindikasikan bahwa tidak ada satupun negara yang bisa mempertahankan kedaualatan dan stabilitasnya dengan mengharapkan bantuan asing semata.

“Perubahan baru-baru ini di Afghanistan telah menyebabkan banyak diskusi di Taiwan. Saya ingin memberi tahu semua orang bahwa satu-satunya pilihan Taiwan adalah membuat diri kita lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih tegas dalam tekad untuk melindungi diri kita sendiri,” kata Tsai pada Rabu (18/8/2021), dikutip dari Channel News Asia.

“Ini bukan pilihan bagi kami untuk tidak melakukan apa-apa sendiri, dan hanya mengandalkan perlindungan orang lain,” tambah Tsai.

3. Pemerintah Taiwan berjanji tidak akan kabur bila tiba-tiba Tiongkok melakukan invasi
Taiwan Tuduh Tiongkok Ingin Meniru Taliban, Berkuasa Pakai Senjata

Tsai juga sempat menyindir Tiongkok. Dia mengatakan bila Taipei tidak dapat mengandalkan niat baik sesaat atau bantuan dari negara yang tidak berkomitmen untuk meninggalkan kekerasan, merujuk kepada Beijing.

Analis telah memperingatkan bahwa Afghanistan dan Taiwan bukanlah perbandingan yang tepat.

“(Taiwan) adalah kepentingan inti bagi AS karena ia adalah demokrasi yang berfungsi dengan baik, sekutu setia, (dengan) militer yang cakap dan secara langsung menentang pesaing terpenting Amerika,” ulas pakar hubungan internasional di Pusan Universitas Nasional, Robert Kelly, melalui cuitannya.

“(Sedangkan) Afghanistan berada di pinggiran kepentingan AS. Analogi yang lebih baik (untuk Taiwan) adalah Israel,” tambah dia.

Perdana Menteri Su Tseng-chang juga menyampaikan, Taiwan tidak akan runtuh seperti Afghanistan. Su meyakinkan masyarakat bila para pemimpin Taiwan tidak akan melarikan diri jika Tiongkok tiba-tiba melakukan invasi, merujuk kepada Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang melarikan diri ke luar negeri saat Taliban mengepung Kabul.

“Saat ini ada negara kuat yang ingin menelan Taiwan dengan kekerasan, dan kami juga tidak takut dibunuh atau dipenjara. Kita harus menjaga negara ini dan tanah ini, dan tidak seperti orang-orang tertentu yang selalu membicarakan gengsi musuh dan merendahkan tekad kita,” ujar Su sebagaimana diberitakan¬†Reuters.

Kelompok Taliban resmi menguasai Afghanistan. Kelompok yang berhaluan Islam konservatif itu telah memegang wilayah ibukota Kabul dan mulai menduduki kantor kepresidenan negara itu.

Sebuah video beredar viral di dunia maya yang menggambarkan beberapa pejabat kelompok itu mulai menguasai kantor Presiden. Tak hanya itu, Taliban juga mendistribusikan video orang-orang bersorak dan berteriak, ketika konvoi truk pick-up memasuki kota dengan para tentara mengacungkan senapan mesin dan bendera putih Taliban.