Inggris Mengajak China & Rusia Menjaga Keamanan Afghanistan

Inggris Mengajak China & Rusia Menjaga Keamanan Afghanistan

Inggris Mengajak China & Rusia Menjaga Keamanan Afghanistan – Setelah hampir sebulan lebih Taliban menguasai Afghanistan, ada laporan mengenai munculnya benih-benih perpecahan di antara para pemimpin kelompok tersebut. Publik mulai ragu mengenai persatuan Taliban awal September, saat Wakil Perdana Menteri Abdul Ghani Baradar menghilang dari sorotan publik.

Laporan bahwa dia telah dibunuh juga memperkuat keraguan tersebut. Menteri Luar Negeri Inggris, Liz Truss, akan mengajak China dan Rusia untuk menyetujui pendekatan internasional terkoordinasi guna mencegah Afghanistan menjadi surga bagi para teroris.

Pernyataan itu disampaikan Truss saat menghadiri sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rencananya, Menlu Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Prancis akan bertemu dengan Sekjen PBB Antonio Guterres.

1. Inggris serukan kerja sama dengan Rusia dan China
Inggris Siap Kerja Sama dengan China-Rusia demi Afghanistan

Sebagai koordinator kelompok P5, yaitu lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Inggris akan memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menyerukan kerja sama yang lebih besar guna meningkatkan keamanan nasional dengan perhatian khusus pada Afghanistan.

“Jika kita ingin mencegah Afghanistan menjadi surga teroris global, maka komunitas internasional, termasuk Rusia dan China, harus bertindak bersama dalam pendekatan dengan Taliban,” kata Truss pada Rabu (22/9/2021), dikutip dari ANTARA.

2. Banyak yang takut Afghanistan akan menjadi sarang teroris lagi
Resolusi DK PBB: Afghanistan Tak Boleh Jadi Sarang Teroris

Kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pasca AS dan sekutunya menarik pasukan memicu kekhawatiran banyak pihak, ihwal Afghanistan yang akan menjadi tempat pelatihan bagi para militan Islam.

Bukannya tanpa alasan, ketika Taliban berkuasa sepanjang 1996-2001, kelompok itu menjadi pihak yang menyembunyikan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, dalang serangan 11 September yang menghancurkan geudng WTC dan Pentagon.

3. Taliban tegaskan tidak ada ISIS atau Al Qaeda di Afghanistan
Inggris Siap Kerja Sama dengan China-Rusia demi Afghanistan

Kemudian, dikutip dari Reuters, Taliban menegaskan bahwa tidak ada lagi Al Qaeda atau ISIS di Afghanistan. Pernyataan itu sekaligus membantah klaim ISIS yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan di Jalalabad.

“Kami tidak melihat siapa pun di Afghanistan yang ada hubungannya dengan Al Qaeda. Kami berkomitmen pada fakta bahwa tidak akan ada bahaya terhadap negara mana pun dari Afghanistan,” kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

Pekan lalu, dalam pertemuan blok keamanan yang dipimpin China dan Rusia, Presiden Xi Jinping mengatakan “pihak-pihak terkait” di Afghanistan harus memberantas terorisme. China juga berjanji akan memberikan lebih banyak bantuan kepada negara itu.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam pidatonya di pertemuan puncak yang sama, mengatakan Rusia perlu bekerja dengan pemerintah Taliban. Dia juga meminta komunitas internasional untuk mencairkan aset-aset Afghanistan. Keraguan tetap ada meski Baradar muncul kembali lewat tayangan yang sudah direkam sebelumnya. Dia dengan jelas tidak berbicara dari pikirannya sendiri, melainkan terlihat membaca sebuah pernyataan.

Untuk meredakan kecurigaan publik tentang kematian atau cederanya, Baradar juga difoto saat menghadiri pertemuan dengan pejabat PBB. Meski begitu, sumber diplomatik dan politik. Mereka menambahkan jika ketidakharmonisan tumbuh, ini akan menimbulkan masalah lebih lanjut bagi rakyat Afghanistan.

Seorang penulis dan reporter yang menghabiskan bertahun-tahun meliput Taliban mengatakan situasi ini adalah hasil dari perpecahan politik-militer, terutama anggota garis keras  yang merasa berhutang budi setelah berjuang selama 20 tahun.

Sebuah sumber politik yang memiliki hubungan selama puluhan tahun dengan petinggi Taliban setuju dengan pernyataan tersebut. Dia mengatakan efek dari keretakan itu meluas hingga merugikan banyak orang, terutama saat anggota kelompok tersebut dengan paksa mengambil barang-barang mantan pejabat Afghanistan serta keluarga mereka.