Filipina Telah Mengerahkan Jet Tempur di Laut China Selatan

Filipina Telah Mengerahkan Jet Tempur di Laut China Selatan

Filipina Telah Mengerahkan Jet Tempur di Laut China Selatan – Tiongkok, atau nama lengkapnya Republik Rakyat Tiongkok atau Republik Rakyat Cina adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur yang beribu kota di Beijing Negara ini memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia (sekitar 1,4 miliar jiwa, mayoritas merupakan suku Han) dan luas daratan 9,59 juta kilometer persegi, menjadikannya negara ke-3 terbesar di dunia. Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan sepertinya masih akan terus menghangat dalam beberapa tahun mendatang. Negara-negara yang memiliki batas di laut tersebut, sedang berseteru dengan klaim yang dilakukan oleh Tiongkok daratan.

Pesawat tempur adalah pesawat militer yang dirancang untuk menyerang pesawat lain di udara. Berbeda dengan pesawat pengebom, yang dirancang untuk menyerang target di permukaan.  Dalam perseteruan terbaru, Dilansir dari Deposit IDN Poker Pakai Dana Filipina mengirimkan beberapa jet tempurnya ke Laut Tiongkok Selatan dan terbang di atas kapal-kapal Tiongkok.

Menteri Pertahanan Filipina menyerukan agar armada kapal-kapal Tiongkok segera ditarik dari laut yang disengketakan tersebut.

1. Provokasi Tiongkok

Keprihatinan internasional terus tumbuh atas ketegangan yang berlangsung di Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan. Awal bulan ini, ratusan armada kapal Tiongkok disebut oleh Filipina berkerumun di wilayah perairan dangkal terumbu karang yang disengketakan oleh kedua negara.

Melansir dari kantor berita Reuters, kapal-kapal Tiongkok dilaporkan ditambatkan di Whitsun Reef, di dalam zona ekonomi eksklusif 200 mil Manila. Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu malam (27/3) bahwa jet tempur Filipina terus dikirim setiap hari untuk memantau keadaan.

Lorenzana mengatakan “aset udara dan laut kami siap untuk melindungi kedaulatan dan hak kedaulatan kami.” Selain itu, Lorenzana juga mengatakan bahwa militernya akan meningkatkan arma lautnya untuk melakukan “patroli kedaulatan” di Laut Tiongkok Selatan.

2. Tiongkok sebut kapal-kapal tersebut adalah penangkap ikan

Sejauh ini, Kedutaan Besar Tiongkok yang ada di Manila tidak memberikan komentar atas insiden tersebut. Namun menurut Al Jazeera, Tiongkok menyebut bahwa kapal-kapal itu adalah kapal penagkap ikan dan tidak ada milisi yang berada di dalamnya.

Mereka juga menjelaskan bahwa kapal-kapal yang berkerumun di sekitar Pulau Palawan, Whitsun Reff di perairan terumbu karang dangkal tersebut, hanya berlindung dari cuaca buruk.

Filipina telah memerintahkan kepada Tiongkok untuk menarik kapal-kapal tersebut. Manila mengatakan bahwa kehadiran kapal-kapal itu dianggap telah “menyerang kedaulatan” lautnya.

Selain patroli udara dengan jet tempur ringannya, Delfin Lorenzana juga mengatakan bahwa Manila telah mengerahkan kapal angkatan laut dan penjaga pantai Filipina ke daerah itu untuk memantau situasi. Lorenzana mengatakan akan terus meningkatkan kehadiran kapal angkatan laut dan penjaga pantainya di wilayah tersebut.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah ditekan untuk mengambil sikap atas tindakan Tiongkok. Tiongkok disebut telah meningkatkan aktivitas konstruksinya yang signifikan di sebuah pulau buatan yang dibangun di atas Subi Reef. Wilayah tersebut disebut termasuk dalam zona ekonomi eksklusif Filipina.

Simularity, sebuah perusahaan teknologi yang berkantor di Amerika Serikat mempelajari citra satelit di Laut Tiongkok Selatan. Menurutnya, “volume perubahannya signifikan, dan mungkin menunjukkan fase awal pembangunan besar di Subi Reef.”

3. Tiongkok berusaha mengontrol wilayah perairan

Filipina bersama dengan Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan saling bersitegang tentang klaim sebagian dari Laut Tiongkok Selatan. Semua klaim Tiongkok atas wilayah perairan di Laut Tiongkok Selatan hampir semua ditolak oleh keputusan pengadilan di Den Haag pada tahun 2016 lalu.

Whitsun Reef, adalah sebuah wilayah kepulauan terumbu karang yang berbentuk seperti bumerang. Melansir dari laman NPR, perusahaan teknologi yang bernama Maxar Technologies telah melakukan pemantauan satelit dan menemukan kapal-kapal Tiongkok parkir saling berdempetan di cekungan bumerang tersebut.

Gregory Poling dari Asia Maritime Transparency Initiative di Pusat Kajian Strategis Internasional, mengatakan citra satelit yang mengungkap posisi kapal-kapal Tiongkok disebut mencurigakan.

Poling mengatakan “Anda tidak bisa menangkap ikan sambil duduk diam. Jadi, jika mereka adalah nelayan komersial, mereka semua akan bangkrut.” Filipina mengetahui keberadaan kapal-kapal tersebut pada awal bulan ini. Sedangkan Beijing menyebut bahwa ratusan kapal itu adalah kapal penangkap ikan.

Menurut Poling, Tiongkok kemungkinan besar tidak akan membangun pulau buatan lagi setelah secara masih membangunnya di kepulauan Spratly. “Tujuan Tiongkok adalah untuk mengontrol wialayh air, dasar laut, wilayah udara. Jadi mereka tidak benar-benar membutuhkan pos kedelapan untuk melakukan itu. Yang mereka butuhkan adalah dominasi yang luar biasa dalam hal jumlah kapal di Spratly.” katanya.