China & Rusia Mulai Latihan Militer Misi Perdamaian 2021

China & Rusia Mulai Latihan Militer Misi Perdamaian 2021

China & Rusia Mulai Latihan Militer Misi Perdamaian 2021 – Kerja sama militer yang erat antara Rusia dan China telah menimbulkan keprihatinan besar bagi Amerika Serikat (AS). Sebab, Washington harus menghadapi dua lawan sebaya bersenjata nuklir untuk pertama kalinya.

Keprihatinan itu disampaikan komandan Komando Strategis (STRATCOM) AS, Laksamana Charles Richard, dalam diskusi forum online dengan Hudson Institute. Blok China-Rusia memulai latihan militer bersama yang disebut sebagai latihan anti-teror Misi Perdamaian 2021. Latihan tersebut berlangsung di tempat pelatihan Donguz di Wilayah Orenburg di Ural.

Latihan militer dilakukan karena adanya kekosongan kekuasaan usai Amerika Serikat (AS) meninggalkan Afghanistan. Latihan juga berlangsung ketika AS, Australia dan Inggris baru saja mengumumkan kesepakatan aliansi tiga negara di bawah Pakta Aukus yang dituding menyebabkan ketidakstabilan di wilayah Asia Pasifik.

1. Latihan militer di bawah naungan Shanghai Cooperation Organisation

Latihan militer terbaru antara China dan Rusia dilaksanakan di bawah Shanghai Cooperation Organisation (SCO) atau juga dikenal sebagai Sanghai Pact (Pakta Sanghai). SCO dipimpin oleh Moskow dan dinilai sebagai kekuatan terhadap dominasi geopolitik Barat.

Negara-negara yang bergabung dalam SCO mulai latihan militer tanggal 20 sampai tanggal 24 September. Dilansir dari The Moscow Times, latihan itu melibatkan lebih dari  Lebih dari 5.000 personel militer dalam latihan gabungan untuk mengusir geng bersenjata dan menetralisir ancaman teroris.

China dikabarkan mengirimkan sebanyak 558 tentara dan 130 kendaraan dan peralatan dalam latihan Misi Perdamaian 2021. Selain itu, pesawat angkut, helikopter angkut, helikopter serang, kendaraan tempur infanteri juga senapan serbu ikut dikirimkan dalam latihan itu.

2. Belarusia dan India ikut latihan Misi Perdamaian 2021
China-Rusia Mulai Gelar Latihan Militer Bersama

Selain melibatkan lebih dari 5.000 tentara, latihan juga mengikutkan lebih dari 1.200 persenjataan militer.

Dalam penjelasan Komandan Distrik Militer Pusat Rusia Kolonel Jenderal Alexander Lapin, seperti dilansir dari media pemerintah Rusia, Tass, pasukan koalisi akan menguji metode baru dalam menjalankan operasi tempur dengan mempertimbangkan persenjataan canggih dan takti formasi teroris.

Latihan akan berjalan dalam dua tahap dan selama fase aktifnya, pasukan koalisi akan mempraktikkan tindakan bersama dalam lima episode operasional.

Alexander Lapin juga mengatakan latihan anti-teror SCO diikuti oleh sekutu Belarusia dan itu jadi pertama kalinya negara yang dipimpin Lukashenko mengikuti latihan tersebut.

Dilansir dari India Today, tentara India juga ikut berpartisipasi dalam Misi Perdamaian 2021 SCO. Angkatan Darat India dalam sebuah pernyataan menjelaskan “kontingen militer India yang terdiri dari kekuatan gabungan semua senjata, 200 personel termasuk 38 personel dari Angkatan Udara berpartisipasi dalam misi Latihan Damai-2021.”

3. Sebanyak sembilan negara ikut berpartisipasi dalam latihan Misi Perdamaian 2021 anti-teror

SCO yang dipimpin oleh Rusia memiliki anggota dari negara-negara pecahan Uni Soviet masa lalu. Mereka kini adalah sekutu utama Rusia dan ikut bergabung dalam latihan militer Misi Perdamaian-2021 anti teror. Jadi dalam latihan kali ini, selain Rusia dan China, ada tujuh negara lain yang ikut yakni Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, India, Pakistan, dan Belarusia. India dan Pakistan diterima sebagai anggota SCO pada tahun 2017.

Rangkaian latihan tersebut telah dimulai sejak bulan Agustus. SCO mengadakan latihan tersebut setiap dua tahun sekali. Dilansir dari Global Times, latihan rutin SCO ini bertujuan untuk memperdalam kerja sama pertahanan dan keamanan di antara negara-negara anggota, meningkatkan kemampuan mereka untuk mengatasi tantangan dan ancaman baru, dan bersama-sama menjaga perdamaian dan keamanan regional.

Menurut Richard, AS belum pernah menghadapi dua lawan sebaya yang bersenjata nuklir dan sistem teknologinya tinggi. Dia mencatat bahwa kemajuan pesat China dalam teknologi nuklir, luar angkasa, dan dunia maya berarti bahwa Washington harus memikirkan dengan hati-hati tentang langkah selanjutnya.

Secara khusus, Richard menyatakan bahwa China, tidak seperti AS dan Rusia, tidak dibatasi oleh perjanjian mengenai kekuatan nuklirnya. Dia menunjukkan bahwa Beijing akan segera menyusul Moskow sebagai musuh Washington yang paling cakap.