China Mengungkapkan Ada 11,6 Juta Anak Tidak Tercatat Negara

China Mengungkapkan Ada 11,6 Juta Anak Tidak Tercatat Negara

China Mengungkapkan Ada 11,6 Juta Anak Tidak Tercatat Negara – Tiongkok, atau nama lengkapnya Republik Rakyat Tiongkok atau Republik Rakyat China adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur yang beribu kota di Beijing Negara ini memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia dan luas daratan 9,59 juta kilometer persegi, menjadikannya negara ke-3 terbesar di dunia.

Tiongkok Daratan merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk kepada kawasan di bawah pemerintahan RRT dan tidak termasuk kawasan administrasi khusus Hong Kong dan Makau, sementara nama Republik Tiongkok mengacu pada entitas lain yang dulu pernah menguasai Tiongkok sejak tahun 1912 hingga kekalahannya pada Perang Saudara Tiongkok.

Laporan statistik tahunan China mengungkap, ternyata ada 11,6 juta anak yang terlahir selama periode 2000-2010 namun tidak tercatat negara. Jumlah itu hampir setara dengan populasi Belgia saat ini. Dilansir Bloomberg, jumlah kelahiran yang tercatat untuk periode tersebut adalah 160,9 juta, yang berarti jumlah aslinya adalah 172,5 juta.

1. Orang tua di China berusaha memiliki anak laki-laki
Begini Pemikiran Orang Tua China Tentang Kebijakan Tiga Anak

Kesenjangan data dengan realita terjadi karena banyak orang tua yang enggan mencatatkan kelahiran anaknya untuk menghindari hukuman, sebab melanggar kebijakan satu anak.

China mulai mengizinkan semua pasangan untuk memiliki anak kedua pada 2016, yang berarti beberapa orang tua tidak akan melaporkan kelahiran sampai anaknya berusia enam tahun dan perlu mendaftar ke sekolah, demikian penuturan ahli demografi He Yafu.

Sekitar 57 persen dari anak-anak yang kelahirannya terlambat didaftarkan adalah anak perempuan. Hal itu mengindikasikan banyak orang tua yang ingin memiliki anak laki-laki supaya kelahirannya bisa didaftarkan secara resmi.

2. Sulit untuk membuat data akurat soal penduduk China
China Temukan 11,6 Juta Anak Tidak Tercatat oleh Negara

Metode sensus itu juga dikritik karena dilakukan hingga masa kelahiran 1 November 2010, yang berarti kelahiran sepanjang November-Desember 2010 tidak akan tercatat. Survei sensus juga biasanya tidak mencakup orang yang telah meninggal atau bermigrasi pada tahun-tahun berikutnya.

Revisi data menunjukkan betapa sulitnya menghitung secara akurat jumlah orang di negara terpadat di dunia itu.

Angka kelahiran untuk periode 2011-2017 juga direvisi dalam buku tahunan statistik terbaru, menunjukkan masalah penghitungan jumlah anak yang lebih rendah kemungkinan berlanjut setelah 2010.

3. China dorong kebijakan tiga anak
Kebijakan Tiga Anak Diperkenalkan di China Untuk Mengurangi Masalah  Populasi yang Menua - ABC News

Beberapa bulan lalu, China telah mengizinkan kebijakan tiga anak, yang diprediksi akan membuat masalah pencatatan kelahiran berkurang beberapa tahun mendatang. Untuk mendorong kebijakan tiga anak, selain menghapuskan hukuman, pemerintah juga berjanji untuk memberikan sejumlah subsidi.

Kendati begitu, jumlah kelahiran diprediksi akan terus menurun dan total populasi bisa mulai menyusut tahun ini. Meskipun ada kelonggaran terhadap kapitalisme, Partai Komunis Tiongkok tetap berkuasa dan telah mempertahankan kebijakan yang mengekang terhadap kumpulan-kumpulan yang dianggap berbahaya, seperti Falun Gong dan gerakan separatis di Tibet.

Pendukung kebijakan ini menyatakan bahwa kebijakan ini menjaga stabilitas dalam sebuah masyarakat yang terpecah oleh perbedaan kelas dan permusuhan, yang tidak mempunyai sejarah partisipasi publik, dan hukum yang terbatas.

Para pengkritik mengatakan bahwa kebijakan ini melanggar hak asasi manusia yang dikenal komunitas internasional, dan mereka juga mengklaim hal tersebut mengakibatkan terciptanya sebuah negara polisi, yang menimbulkan rasa takut.