China Kecam Politisasi Dalam Penelitian Asal Muasal COVID19

China Kecam Politisasi Dalam Penelitian Asal Muasal COVID19

China Kecam Politisasi Dalam Penelitian Asal Muasal COVID19 – COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia. COVID-19 (coronavirus disease 2019) adalah jenis penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari golongan  coronavirus, yaitu SARS-CoV-2 yang juga sering disebut virus Corona.

Coronavirus Disease yang pertama kali diketahui muncul di kota Wuhan, China, pada tahun 2019 lalu, telah menjadi badai pandemik di seluruh dunia. Total umat manusia yang terinfeksi virus tersebut secara global telah lebih dari 214 juta orang. Mereka yang meninggal lebih dari 4,4 juta orang. Upaya untuk menghentikan infeksi dengan vaksin terus digenjot agar kekebalan kawanan global dapat terpenuhi, meski terkendala banyak masalah. Namun demikian, upaya untuk memahami asal-muasal COVID-19 masih menjadi perdebatan.

Tidak puas dengan hasil penelitian tim WHO pada Januari-Februari yang menolak teori idn poker mobile kebocoran laboratorium China, AS melakukan penyelidikan lewat badan intelijennya. Badan intelijen tersebut rencananya akan segera menerbitkan laporannya. Namun di sisi lain, Beijing dengan keras mengecam politisasi penelitian asal-muasal COVID-19. Juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Wang Wenbin mengatakan pelacakan COVID-19 membutuhkan sains, bukan intelijen.

1. Intelijen AS akan merilis hasil tinjauan penyelidikannya sendiri karena tidak puas dengan hasil penyelidikan tim WHO

Presiden Joe Biden pada bulan Mei lalu telah memerintahkan kepada para pembantunya untuk bekerja menyelesaikan perselisihan antara badan intelijen yang memeriksa teori tentang bagaimana COVID-19 dimulai.

Washington tidak puas mengenai laporan WHO pada bulan Maret setelah penelitian muasal COVID-19 di sekitar Wuhan pada Januari-Februari.

Intstruksi Biden, termasuk memeriksa teori yang pernah ditolak yakni kemungkinan kecelakaan laboratorium China dan bahwa virus sebenarnya berasal secara alami dari hewan seperti kelelawat atau burung.

Dilansir Reuters, pada hari Senin (23/8), sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki menjelaskan tinjauan intelijen yang diperintahkan oleh Biden dalam tenggat waktu 90 hari seharusnya selesai hari Selasa.

Namun ada beberapa informasi yang tidak harus dipublikasikan sehingga mesti dipilah-pilah yang akan memakan waktu lebih lama lagi.

Empat pejabat AS yang jadi sumber informasi Reuters, tiga di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak berharap peninjauan itu mengarah pada kesimpulan tegas “menyudutkan” China setelah negara yang dipimpin Xi Jinping itu pernah menghalangi upaya penyelidikan muasal virus sebelumnya.

Satu pejabat lainnya mengatakan ada kemungkinan tinjauan intelijen dapat membawa penyelidikan tambahan termasuk menuntut China yang akan semakin meningkatkan ketegangan antara Beijing dan Washington.

2. China akan serang balik AS jika dikambing hitamkan

Penyebab munculnya COVID-19 telah jadi perseteruan yang menjerat China, AS dan WHO. Namun hasil dari penyelidikan tim WHO pada awal tahun ini, menyimpulkan ” sangat tidak mungkin kebocoran laboratorium di Wuhan” jadi permulaan virus.

Meski begitu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat itu mengatakan bahwa “semua hipotesis tidak dikesampingkan dan memerlukan studi lengkap dan lebih lanjut.”

Menjelang rilis laporan intelijen AS mengenai tinjauan asal-muasal virus, Fu Cong, seorang direktur jenderal Kementerian Luar Negeri China mengatakan dalam jumpa pers hari Rabu, “jika mereka ingin menuduh China tanpa dasar, mereka lebih baik siap menerima serangan balik dari China,” katanya dikutip Associated Press.

Fu mengkritik “politisasi” penelitian asal-usul virus dan tidak mau dikambing hitamkan oleh AS.

“Jika Dr. Tedros percaya bahwa kita tidak boleh mengesampingkan hipotesis kebocoran laboratorium, dia tahu ke mana harus pergi. Dia harus pergi ke laboratorium AS,” kata Fu merujuk laboratorium Fort Detrick, Maryland.

3. Penelitian asal-muasal virus butuh pendekatan saintifik, bukan intelijen
China-AS Kembali Bersitegang soal Asal-Usul COVID-19

China Daily, media yang dimiliki oleh Departemen Publikasi Partai Komunis China pada Rabu, mengutip penjelasan juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Wang Wenbing, meminta AS berhenti mempolitisasi masalah ilmiah.

“Pelacakan asal-muasal (COVID-19) membutuhkan sains, bukan intelijen,” ujar Wenbing. Menurutnya, penyelidikan asal-muasal virus dengan menggunakan badan intelijen adalah tindakan anti-sains.

Dia juga menjelaskan bahwa AS memiliki motif politik yang tersembunyi. Senada dengan apa yang dijelaskan oleh Fu Cong, Wang Wenbin mengatakan AS harus berhenti menyalahkan dan mencoreng China dan mengundang para ahli Organisasi Kesehatan Dunia untuk melakukan penelitian penelusuran asal di negara itu sesegera mungkin,” katanya merujuk kemungkinan asal virus adalah kebocoran laboratorium milik AS.

Kasus pertama penyakit ini terjadi di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Setelah itu, COVID-19 menular antarmanusia dengan sangat cepat dan menyebar ke puluhan negara, termasuk Indonesia, hanya dalam beberapa bulan.

Penyebarannya yang cepat membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan penyebaran virus ini.