Berikut Kebudayaan Tua yang Sempat Berkembang di Asia Tengah

Berikut Kebudayaan Tua yang Sempat Berkembang di Asia Tengah

Berikut Kebudayaan Tua yang Sempat Berkembang di Asia Tengah – Asia Tengah adalah sebuah kawasan yang terkurung daratan di Benua Asia. Banyak arti yang berbeda dalam komposisi wilayah yang sebenarnya. Asia Tengah mencakup sekitar 9.029.000 km², atau 21% dari benua.

Negara-negara yang termasuk dalam wilayah Asia Tengah menurut arti ini ialah Republik Rakyat Tiongkok (Provinsi Qinghai, wilayah otonomi Xinjiang dan Tibet), Kazakhstan (wilayah sebelah timur Sungai Ural), Kirgizia, Tajikistan,  Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Kebudayaan bangsa-bangsa tersebut seperti tertimbun selama ratusan atau ribuan tahun karena adanya pihak-pihak lain yang berkuasa di Asia Tengah yang memang berhasil menanamkan pengaruh yang lebih besar.

1. Kebudayaan Andronovo
5 Kebudayaan yang Hilang di Asia Tengah, Ternyata Sangat Berpengaruh!

Andronovo adalah budaya Zaman Perunggu (Bronze Age) yang dominan berlokasi di Kazakhstan dan Uzbekistan pada abad ke-20 SM. Penduduk kuno di sana umumnya tinggal di pondok-pondok yang dibangun dari bahan-bahan alami, serta sangat bergantung pada pertanian dan peternakan domba, sapi, dan kuda.

Komunitas Andronovo mengalami kemajuan dan mampu memproduksi tembikar bewarna dengan dekorasi geometris dan barang keperluan sehari-hari dari tembaga atau perunggu. Kepercayaan mereka juga diyakini sangat tradisional, yakni berupa persembahan makanan kepada suatu entitas api dan matahari. Akan tetapi, sebuah tradisi Andronovo yang paling unik adalah tata cara pemakaman mereka, yaitu jasad dikuburkan bersamaan dengan perhiasan favorit, senjata, keramik, dan bahkan hewan-hewan kurban di dalam peti yang sama.

Pada sekitar abad ke-15 SM, orang-orang Andronovo pada akhirnya berasimilasi dengan  suatu komunitas pendatang dari utara China. Imigrasi pendatang baru tersebut membentuk kebudayaan baru yang dinamakan Karasuk, yang kemudian menggantikan Kebudayaan Andronovo.

2. Kebudayaan Oxus
5 Kebudayaan yang Hilang di Asia Tengah, Ternyata Sangat Berpengaruh!

Oxus adalah sebuah sungai yang kini bernama Amu Darya dan masuk wilayah Uzbekistan, Turkmenistan, dan Afghanistan. Kebudayaan di kawasan tersebut dinamakan Oxus namun sebenarnya berpusat di Margiana, provinsi kuno di Turkmenistan, dan sebagian kecil di Baktria, wilayah purba di utara Afghanistan. Maka dari itu, ilmuwan juga menetapkan Kebudayaan Baktria-Margiana sebagai nama alternatif.

Baktria-Margiana mencapai puncaknya ketika beberapa bangsa dan budaya melebur pada saat majunya Zaman Perunggu (Bronze Age) di sana sejak sekitar tahun 2300 SM. Komunitas raksasa ini mengalami urbanisasi dan sukses membangun banyak sekali kota, serta mengonstruksi karya-karya arsitektur, seperti benteng, kuil, waduk, tembok, dan gerbang kota. Para perajin Baktria-Margiana juga pandai dalam memanfaatkan emas, perak, tembaga, perunggu, dan batu-batuan untuk memproduksi beragam karya seni, khususnya patung manusia atau hewan. Selain itu, penduduk di sana dipercaya memiliki tingkat literasi yang cukup berdasarkan beberapa penemuan tulisan misterius yang dipahat di batu-batu kecil.

Nasib Kebudayaan Oxus tidak begitu baik setelah kedatangan bangsa dan budaya asing yang menyebabkan interaksi tidak sehat. Bangsa pendatang tersebut menyebabkan perpecahan Baktria-Margiana ke beberapa komunitas yang masing-masing memilih jalur kebudayaan yang berbeda-beda.

3. Kebudayaan Saka
5 Kebudayaan yang Hilang di Asia Tengah, Ternyata Sangat Berpengaruh!

Bangsa Skithia adalah penduduk nomaden yang mengalami kemajuan budaya sejak abad ke-7 SM dan berhasil menanamkan pengaruh mulai dari kawasan Eropa Timur, seluruh Asia Tengah, hingga Mongolia. Luasnya kekuasaan bangsa ini berdampak pada pembagian 4 kelompok budaya utama, yang salah satunya adalah komunitas Saka yang secara khusus berdomisili di Asia Tengah.

Kelompok Saka sebenarnya terbentuk dari konfederasi beberapa suku bangsa di sana. Militer mereka memiliki persatuan dan loyalitas yang kuat karena adanya tradisi persaudaraan unik yang dilakukan sebelum atau selama berperang. Salah satu kebiasaan menarik tersebut adalah dua pejuang perang yang minum dari tanduk hewan (pada masanya dimanfaatkan sebagai gelas minum) yang sama. Di sisi lain, emas dimanfaatkan secara besar-besaran untuk memproduksi barang-barang mewah untuk para penguasa, aksesoris, dan peralatan keagamaan, seperti cawan atau piala.

Komunitas bangsa Saka sekaligus Skithia mengalami kehancuran total setelah serangan bangsa Hun pada abad ke-4 M. Akan tetapi, budayanya masih membawa pengaruh kepada bangsa-bangsa penerus dan sisa-sisa kejayaan Saka tetap dikenang berkat banyaknya penemuan arkeologi yang tersebar di beberapa tempat di Asia Tengah dan Mongolia.

4. Kebudayaan Sogdia
5 Kebudayaan yang Hilang di Asia Tengah, Ternyata Sangat Berpengaruh!

Sogdia adalah nama sebuah provinsi kuno sekaligus kebudayaan dari Persia yang berada di Asia Tengah pada abad ke-6 atau ke-5 SM. Perkembangan budaya dan kemajuan pengetahuan penduduk Sogdia dimulai sejak abad ke-4 M. Interaksi dengan banyak negara dan bangsa lain menyebabkan komunitas Sogdia mengadopsi banyak budaya, pandai dalam berdagang, mampu berbicara dalam banyak bahasa, serta menghasilkan bermacam-macam karya seni dan mode berpakaian.

Meskipun tidak sampai membangun kerajaan, Sogdia memiliki pemerintahan dan tentara tangguh yang berbasis di setiap kota yang dikuasai. Bangsa ini menduduki kota-kota besar dan membangun banyak rumah glamor berdasarkan penemuan di Uzbekistan dan Tajikistan. Selain itu, para artisannya mampu memproduksi barang-barang mewah, seperti kerajinan logam dan tekstil sutra, yang diekspor ke berbagai negara (salah satunya China). Di samping bahasa, masyarakat heterogen di sana memeluk banyak aliran kepercayaan dan agama, antara lain Mazdaisme (agama kuno Persia), Maniisme (agama tradisional Partia), Hindu, Buddha, Yahudi, dan Kristen.

Sayangnya, kebudayaan yang sangat besar ini merosot setelah serangan oleh tentara Islam pada abad ke-8 M. Orang-orang Sogdia di bagian timur dekat dengan China juga dilanda konflik sehingga ekonomi merosot dan tidak sedikit yang memilih melebur dengan budaya China, sehingga identitas khas Sogdia lambat-laun memudar.

5. Kebudayaan Kushan
5 Kebudayaan yang Hilang di Asia Tengah, Ternyata Sangat Berpengaruh!

Kushan adalah kebudayaan yang pertama kali dibawa oleh bangsa Yuezhi dari barat China dan berhasil membentuk kekaisaran pada abad ke-1 M di Asia Tengah. Mereka sukses melakukan ekspansi wilayah dan menguasai kawasan mulai dari Baktria di utara sampai India di selatan.

Banyaknya bangsa yang dikuasai memberikan imbalan berupa beragamnya budaya yang bersatu dalam Kekaisaran Kushan yang berdaulat. Budaya atau kesenian negara ini meliputi Yunani-Romawi Kuno di Baktria, Partia dari Persia, seni Gandhara di utara Pakistan, dan seni Mathura di India. Maka dari itu, produk seni Kushan sangat boleh dibanggakan mengetahui betapa banyaknya fitur yang menjadi kekhasan masing-masing daerah. Patung, relief, lukisan, dan barang-barang dari logam merupakan segelintir jenis artefak yang pernah dihasilkan.

Kebudayaan pluralistis ini mengalami kejatuhan bersamaan dengan tumbangnya Kekaisaran Kushan pada abad ke-4 M. Serangan oleh Kekaisaran Sasaniyah dari barat (Persia) dan Kekaisaran Gupta dari timur (India), serta lepasnya banyak wilayah menjadi negara baru merupakan alasan kerontokan Kushan secara keseluruhan. Budaya-budaya yang sebelumnya berada di wilayah Kushan akhirnya diklaim dan kemungkinan dikembangkan oleh tiap-tiap negara penerus.

Semasa abad ke-20, kebanyakan wilayah di Asia Tengah merupakan bagian dari bekas negara aliran komunis Uni Soviet, yang pecah tahun 1991. Wilayah terkecuali ialah Mongolia dan daerah milik Tiongkok seperti Xinjiang. Negara-negara tersebut telah berpaling dari sistem komunis, dan sekarang mengikuti berbagai sistem politik yang terdiri dari demokratis lemah hingga sangat otoriter.

Namun Tiongkok dan Rusia masih berpengaruh kuat dalam mengontrol wilayah itu. Kebanyakan negara di Asia Tengah bergabung dalam Organisasi Kerjasama Shanghai..