Bank Dunia Berharap China Berikan Donasi Ke Negara Miskin

Bank Dunia Berharap China Berikan Donasi Ke Negara Miskin

Bank Dunia Berharap China Berikan Donasi Ke Negara Miskin – Bank Dunia merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang menyediakan pinjaman kepada negara berkembang untuk program pemberian modal. Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan dia berharap China akan meningkatkan sumbangannya ke dana Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) untuk negara-negara termiskin.

Tujuan resmi Bank Dunia adalah pengurangan kemiskinan. Menurut Articles of Agreement Bank Dunia (sebagaimana telah diubah, efektif sejak 16 Februari 1989) seluruh keputusannya harus diarahkan oleh sebuah komitmen untuk mempromosikan investasi luar negeri, perdagangan internasional, dan memfasilitasi investasi modal.

Malpass mengatakan ia melibatkan China, Rusia, Turki, Inggris, dan negara-negara donor lainnya dalam upaya mengumpulkan sekitar 100 miliar dolar (Rp1,4 kuadriliun) untuk dana tersebut pada akhir tahun. Hal itu disampaikannya kepada Komite Bretton Woods, sebuah kelompok pendukung yang berbasis di AS, dilansir kantor berita ANTARA dari Reuters, Jumat (15/10/2021).

1. Bank Dunia nilai ekonomi China cukup baik untuk berdonasi
Bank Dunia Minta China Tingkatkan Donasi untuk Negara Miskin

Malpass mengatakan ekonomi China telah tumbuh dan dia menilai bahwa Beijing dapat meningkatkan donasi yang sebelumnya sudah lumayan besar kepada IDA. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama 2021 yang mencapai 18,3 persen telah memukau banyak negara.

Pertumbuhan ekonomi ini merupakan yang terbesar sejak 1978 di negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut. Padahal, pertumbuhan ini terjadi di tengah pandemik COVID-19, yang telah membuat pertumbuhan ekonomi sulit dicapai di kebanyakan negara.

Namun, Bank of America (BofA) memangkas perkiraan pertumbuhan China pada Selasa (21/9/2021). Penyesuaian itu dilakukan sebagai tanggapan atas meningkatnya masalah di perusahaan properti Evergrande, wabah COVID-19 baru, dan tekanan peraturan yang meluas.

BofA memangkas perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil untuk China untuk tahun ini menjadi 8,0 persen dari 8,3 persen. Sementara untuk 2022, BofA memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 5,3 persen dari 6,2 persen. BofA juga memangkas prospek 2023 menjadi 5,8 persen dari 6,0 persen.

Sejumlah bank lain selain BoFa juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China. Standard Chartered dan ING, serta Goldman Sachs juga memperingatkan hal serupa.

2. Sumbangan dana besar dinantikan negara miskin
Bank Dunia Minta China Tingkatkan Donasi untuk Negara Miskin

Malpass pada Senin menerima target pengumpulan dana Rp1,4 kuadriliun yang sebelumnya ditetapkan oleh para pemimpin Afrika. Dia mengatakan bahwa dana tersebut diperlukan untuk mengatasi “kemunduran tragis” dalam pembangunan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Selain China, Jepang juga disebut Malpass, telah berkomitmen untuk memberikan kontribusi yang besar.

Pejabat keuangan Kelompok 20 negara-negara dengan perekonomian maju (G20), pada Rabu (13/10/2021), mengatakan mereka menantikan masuknya sumbangan dana besar-besaran.

3. Kesenjangan negara maju dan berkembang kian lebar
Bank Dunia Minta China Tingkatkan Donasi untuk Negara Miskin

Bank pembangunan multilateral itu memperkirakan pertumbuhan global sebesar 5,7 persen pada tahun 2021 dan 4,4 persen pada 2022. Namun, Malpass mengatakan kesenjangan antara ekonomi maju dan negara berkembang semakin memburuk.

“Ini telah menghambat upaya untuk mengurangi kemiskinan ekstrem dari tahun ke tahun, dan dalam beberapa kasus untuk kemiskinan ekstrem yang terjadi dalam beberapa dekade.”