AS dan Tiongkok belum Menyetujui Tentang Kesepakatan Dagang

AS dan Tiongkok belum Menyetujui Tentang Kesepakatan Dagang

AS dan Tiongkok belum Menyetujui Tentang Kesepakatan Dagang – Dalam wawancara dengan New York Times (NYT), Biden mengatakan bahwa dia tidak akan bertindak gegabah menghapus tarif yang dibuat Presiden Donald Trump ke China. Kata dia, penting bagi AS untuk mendapatkan kembali pengaruh dalam negosiasi dengan China.

Di kesempatan itu, ia juga berujar soal pengembangan konsensus bipartisan dan meningkatkan investasi- baik penelitian, infrastruktur maupun pendidikan- agar bisa lebih bersaing dengan China. Pembelian barang-barang Amerika Serikat (AS) oleh Tiongkok masih jauh dari tingkat yang disepakati kedua negara dalam perjanjian dagang mereka.

Kegagalan ini terjadi bahkan ketika impor Tiongkok secara keseluruhan dari AS telah melonjak, Dirangkum dari idn poker ios menurut analisis dari Peterson Institute for International Economics yang berbasis di AS, Senin (26/7/2021).

1. Kesepakatan dagang AS-Tiongkok
Tiongkok-AS Belum Sepakat Soal Perjanjian Dagang 

Pada Januari 2020, sebelum pandemik virus corona melanda dan AS masih dipimpin mantan Presiden Donald Trump, Tiongkok setuju untuk membeli setidaknya 200 miliar dolar AS lebih barang dan jasa Amerika selama dua tahun ke depan.

Dalam kesepakatan dagang yang dikenal sebagai Kesepakatan Perdagangan Fase Satu itu, perjanjian pembelian tersebut mencakup produk pertanian, energi, dan manufaktur tertentu.

Namun, pada Juni ini, data pemerintah Tiongkok dan AS menunjukkan bahwa Tiongkok baru membeli kurang dari 70 persen dari target tahun ini, menurut perkiraan dari rekan senior Peterson Institute Chad P. Bown.

2. Pembelian Tiongkok telah meningkat
Tiongkok-AS Belum Sepakat Soal Perjanjian Dagang 

Menurut data AS yang dikutip Bown, pembelian pertanian adalah yang paling dekat untuk memenuhi tingkat kesepakatan, yakni sudah mencapai 90 persen dari target.

“Kekurangan itu terjadi saat perdagangan antara kedua negara telah berkembang,” menurut data bea cukai Tiongkok, sebagaimana dilaporkan CNBC.

Sementara itu, Tiongkok mengekspor barang senilai 252,86 miliar dolar AS ke Negeri Paman Sam pada paruh pertama 2021. Itu berarti naik 42,6 persen dari periode yang sama pada 2020 dan naik 26,8 persen dari paruh pertama tahun 2019.

Berdasarkan data itu, AS tetap menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok dalam basis satu negara, meskipun ketegangan perdagangan meningkat di bawah pemerintahan Trump.

3. Pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok terhenti
Tiongkok-AS Belum Sepakat Soal Perjanjian Dagang 

Dalam beberapa tahun terakhir, di bawah pemerintahan Trump, AS telah mengenakan tarif pada barang-barang Tiongkok senilai miliaran dolar. Langkah itu ditujukan untuk mengatasi keluhan lama tentang berbagai masalah seperti kurangnya akses pasar dan perlindungan kekayaan intelektual. Tiongkok kemudian menanggapi dengan memberlakukan bea masuknya sendiri atas barang-barang AS.

Sejak menjabat pada Januari, Presiden Joe Biden yang menggantikan Trump telah mempertahankan tarif dan sanksi era Trump terhadap perusahaan teknologi besar Tiongkok seperti Huawei. Biden juga mengumumkan sanksi tambahan terhadap entitas Tiongkok.

“Tetapi Biden belum mengartikulasikan strategi perdagangan atau pendekatan lain yang benar-benar efektif dalam melawan kekuatan ekonomi China,” kata Michael Hirson, kepala praktik untuk China dan Asia Timur Laut di Eurasia Group, di “Squawk Box Asia” CNBC, Senin.

Di sisi lain, pejabat senior pemerintah AS tidak menyebutkan tarif dalam panggilan telepon dengan wartawan tentang pertemuan yang dilakukan pejabat Tiongkok dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman. Para pejabat AS hanya mengatakan Sherman menekankan kekhawatiran tentang perdagangan dan praktik ekonomi yang tidak adil.

4. Upaya peninjauan belum dijalankan
Tiongkok-AS Belum Sepakat Soal Perjanjian Dagang 

Dalam perjanjian perdagangan fase satu, sebelumnya disebutkan bahwa akan ada peninjauan kesepakatan yang dilakukan secara berkala. Tetapi pertemuan untuk melakukan peninjauan belum dilakukan karena sejumlah alasan, termasuk pandemik virus corona dan perubahan kepemimpinan Gedung Putih.

Selama tahun pertama perjanjian perdagangan fase satu, pada 2020, pembelian Tiongkok tercatat kurang dari 60 persen dari target, berdasarkan data kedua negara, kata Peterson Institute.